Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Tafsir Aktual: Kedonyan (6)

Ainul Hafidz • Sabtu, 20 September 2025 | 14:06 WIB

Rubrik opini KH Mustain Syafii.
Rubrik opini KH Mustain Syafii.

TSUMM kalla sauf ta’lamun. Ini pengulangan kalimat (takrar) yang tentu saja saking pentingnya untuk diperhatikan.

Artinya, umumnya manusia itu ndableg bila dinasihati soal duit.

Hasratnya terlalu besar, akhirnya ngawur dan buta, yang penting dapat duit.

Bagi yang punya kuasa, maka memanfaatkan kekuasaannya.

Jadinya ’’kolu nguntal’’ uang rakyat, walau itu tidak pantas banget. Mosok, menteri ngurusi agama kok korupsi…?

Kalla law ta’lamun ilm al-yaqin. Ini sungguhan, jika kalian mengerti akibatnya secara yaqin (ilmu al-yaqin), maka kalian tidak akan ndableg dan terus nguber duit.

Hal itu, jika diterus-teruskan, maka akan nampak di hadapan kalian neraka jahim yang siap membakar kalian.

Latarawunn al-jahim. Secara teks, memang ayat ini sebuah ancaman untuk nanti di akhirat dan pasti terjadi.

Bila diaktualkan, maka sebuah isyarat, bahwa di dunia juga bakal mengalami kehancuran, entah hartanya berangsur habis sehingga tidak bisa manfaat ke anak keturunan, atau diri pribadinya yang sakit-sakitan dan sengsara, sehingga tidak bisa menikmati hidup, padahal uangnya banyak.

Sekali lagi, itu pasti dan tinggal tunggu saatnya saja.

Tsumm latarawunnaha ‘ain al-yaqin. Sebelumnya telah diingatkan soal manusia kedonyan yang bakal mengerti sendiri akibat buruknya secara yakin.

Baca Juga: Tafsir Aktual: Kedonyan (3)

Keyakinan tersebut oleh Gusti Allah Ta’ala diantar dan dibahasakan dengan ’’ilmu, mengetahui’’, baik dalam bentuk masdarnya (ilm, ilmal yaqin), maupun kata kerja pengantarnya (ta’lamun).

Sementara pada ayat ini, terma yaqin itu digandengi dengan kata ’’ain, ainal yaqin’’ dan kata kerja pengantarnya dipakai ’’latarawunnaha, ra’a, yara, ru’yah’’ yang arti dasarnya melihat dengan mata kepala sendiri.

Di sini Tuhan nampak sangat serius menasihati wong kedonyan, mumpung belum terlanjur.

Kalau sudah kedahuluan mati dan belum berubah, maka pasti sengsara sendiri.

Percuma punya uang banyak tapi tidak digawe sangune mati, bekal menghadap Tuhan.

Ini perjalanan sangat jauh dan tidak terbatas, maka tidak ada satupun manusia yang merasa cukup bekal. Semua merasa kurang dan kurang.

Anda, dari Jombang mau pergi ke Mojokerto, mungkin cukup bawa uang seratus ribu rupiah.

Tapi kalau sangu satu juta, rasanya hati ayem. Mau jajan, mau ngopi, mau beli oleh-oleh bisa. Makin banyak sangu, malah bisa digawe ’’gendhaan’’.

Show.. Lha kalau mau ke Jakarta... Mau ke Korea, kalau ke Amerika, kalau ke akhirat…?

Terhadap uang dan kekayaan, sebagai orang tua, kita jangan bodoh-bodoh dengan memperhatikan untuk anak secara berlebihan.

Ojo kabeh-kabeh gawe anak. Utamakan diri sendiri lebih dulu. Toh kita sendiri yang soro-soro bekerja dan mendapatkannya.

Ninggali harta untuk anak itu sangat penting, tapi sewajarnya saja.

Ya.. Kalau anaknya nggenah dan mengerti, maka mereka sering kirim doa, memohonkan ampunan, kirim pahala sedekah untuk orang tuanya.

Lha kalau tidak..? Mereka yang enak-enakan menikmati warisan, sementara wong tuo yang soro sendiri di alam kubur. Na’udz billah min dzalik. (*)

Penulis:

KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang

Editor : Ainul Hafidz
#Tebuireng #KH Mustain Syafii #harta #akhirat #warisan #Jombang #Tafsir Aktual #orang tua #kedonyan #Anak