JombangBanget.id - Ustad Addin Mustaqim Alhafiz dari PP Al Amanah 2 Ngledok Mojokrapak Tembelang, Jombang menjelaskan sifat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.
’’Ada empat sifat Nabi yang disebutkan dalam QS Attaubah 128,’’ tuturnya, saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Jumat (12/9).
Pertama, azizun alaihi ma anittum, berat terasa oleh beliau penderitaanmu.
Nabi SAW sangat peduli pada kesulitan yang dialami umatnya.
Beliau ikut merasakan penderitaan mereka, baik secara fisik maupun batin. Hati beliau tidak tenang jika umatnya tersesat, celaka, atau menderita.
Aisyah radiyallahu anha meriwayatkan: Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih berat penderitaannya ketika sakit dibandingkan Rasulullah SAW.
Ketika Rasulullah SAW dalam sakit keras menjelang wafatnya, beliau tidak hanya merintih karena rasa sakit, tapi justru lebih banyak memikirkan nasib umatnya.
Bahkan, ucapan terakhir yang terus beliau ulang adalah: Ummati... ummati.. Umatku... umatku.
Ini menunjukkan betapa berat beliau menanggung penderitaan umat, bahkan di ujung hidupnya sendiri.
Kedua, harisun alaikum, sangat menginginkan keselamatan bagi kalian.
Rasulullah SAW sangat ingin umatnya selamat, mendapat hidayah, dan hidup dalam iman.
Baca Juga: Binrohtal: Ini Amalan Kecil yang Bikin Nabi Muhammad Dekat dengan Kita di Akhirat
Seluruh hidup beliau dihabiskan untuk mengajak manusia ke jalan kebenaran, walau menghadapi penolakan, ejekan, bahkan kekerasan.
Allah berfirman dalam QS Al-Kahfi 6.
Maka barangkali engkau akan membinasakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, jika mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).
Di Thaif, Nabi SAW dilempari batu hingga berdarah.
Saat malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menghancurkan penduduk kota itu, Nabi justru berkata: ’’Jangan. Aku berharap dari anak cucu mereka akan lahir orang-orang yang menyembah Allah.’’
Harapan dan cinta beliau terhadap keselamatan umat tak pernah padam, meski beliau disakiti.
Ketiga, ra’uf, penyantun, sangat lembut. Nabi sosok yang penuh kelembutan.
Ia memperlakukan semua orang, terutama kaum beriman, dengan kasih, kesabaran, dan toleransi.
Bahkan dalam mengajarkan kebenaran, beliau tidak pernah memaksa, apalagi kasar.
Allah menegaskan dalam QS Al-Qalam 4. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Anas bin Malik radiyallahu anhu berkata: Aku melayani Rasulullah SAW selama 10 tahun. Tidak sekalipun beliau berkata ‘ah’ kepadaku.
Suatu hari, Nabi melihat anak kecil bernama Abu Umair yang bersedih karena burung peliharaannya mati. Nabi tidak mengabaikannya, tapi malah menghiburnya.
Sebuah momen kecil, tapi menunjukkan betapa lembut dan hangatnya hati beliau, bahkan kepada anak kecil yang sedang bersedih.
Keempat, rahim, penyayang. Sifat kasih sayang Nabi SAW tidak terbatas.
Ia meliputi seluruh umatnya, bahkan musuh-musuhnya.
Kasih sayang beliau memancar dalam seluruh aspek kehidupan—baik dalam keluarga, masyarakat, dan bahkan dalam medan perang.
Sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-Anbiya 107. Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Setelah Fathu Makkah, Nabi SAW tidak membalas dendam kepada orang-orang yang dulu mengusirnya.
Justru beliau memaafkan mereka dan berkata: ’’Pergilah kalian, karena kalian semua bebas.’’
Ini bukan hanya ampunan, tapi kasih sayang yang luar biasa dari seorang pemimpin terhadap musuh yang telah menganiayanya.
Mari kita jadikan sifat-sifat Nabi SAW ini sebagai cermin dalam berinteraksi dengan sesama.
Peduli terhadap penderitaan orang lain. Tulus dalam menginginkan kebaikan mereka.
Lembut dalam berbicara dan bersikap. Penuh kasih dalam setiap perbuatan.
Karena semakin kita meneladani Nabi, semakin dekat pula kita pada cinta Allah SWT. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz