KALLA sauf ta’lamun, tsumm kalla sauf ta’lamun. Jangan begitu.
Kalau kamu masih ndableg, kamu akan tahu sendiri akibatnya wong kedonyan itu.
Tesis ini diulang hingga dua kali. Tentu saja karena saking pentingnya.
Saking gematinya Gusti Allah hingga mau mengulang nasehat-Nya.
Mumpung belum kebacut and keblanjur, diingatkan lebih dahulu secara serius.
Sekali lagi hal demikian karena saking besar-Nya kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya.
Orang tua yang sayang anak tentu tak henti-henti menasehati.
Beda dengan orang lain, sekali diingatkan, lalu dibiarkan. ’’Wis karepmu.. Wong gak ikut punya anak saja..’’
Pengaruh buruk itu nyata dan kita dilarang berdekat-dekat. Pengaruh baik juga ada dan kita diperintahkan berdekat-dekat.
Makanya, agama menyuruh kita berteman dengan teman yang bisa membaikkan perilaku kita, menyemangati kita beribadah.
Menghindari teman buruk, khawatir terpengaruh. Kumpul penjual parfum, setidaknya kita tercium harum.
Baca Juga: Tafsir Aktual: Kedonyan (2)
Seorang anak bagus sekali perilakunya, saleh dan pinter. Beberapa hari sering terlihat koncoan dengan anak nakal dan pemalas.
Ayahnya menasihati agar menghindar, tetapi si anak menolak karena merasa mampu menjaga diri dan yakin tidak akan ketularan buruk.
Saat musim panen anggur, sang ayah mengajak anak ikut membantu memanen di kebun.
Dengan sengaja, sang ayah menaruh semua anggur yang sudah dipetik tanpa pandang kualitasnya, baik anggur bagus, mulai membusuk, maupun anggur yang rusak dalam satu keranjang.
Anak itu tidak suka dengan cara bapaknya yang melakukan pencampuran tersebut.
Karena kesalihannya, lalu, tanpa menegur sang ayah dia memilihi anggur busuk, anggur rusak dengan tekun dan teliti, kemudian dikeluarkan dari keranjang tersebut dan ditempatkan di keranjang lain.
Sang ayah mendekat dan bertanya: ’’Kenapa kamu pilihi, biarkan saja di keranjang itu, kok lalar gawe..?’’
Si anak menatap wajah sang ayah dan menjawab: ’’Ini hukum alam, Pak. Jika anggur busuk ini tidak disingkirkan, maka anggur yang baik akan ketularan dan menjadi rusak juga.’’
Mendengar jawaban si anak, sang ayah tersenyum sembari menatap wajah si anak, lalu berkata: ’’Itulah sebabnya, jauh-jauh saya mengingatkan kamu agar jangan berteman dengan anak nakal dan pemalas. Bapak khawatir kamu ketularan..’’
Si anak terdiam dan menurut.
Lalu, apa kita tidak boleh berakrab-akrab dengan orang kaya dan berduit..?
Boleh. Tapi ambil baiknya, sedekahnya, ibadahnya dan lain-lain.
Baca Juga: Dosen Unipdu Jombang Ini Jelaskan Jilbab dalam Khazanah Tafsir Nusantara
Kalau tidak, nanti Anda jadi manusia yang tak pandai bersyukur. Suka meihat ke atas terus. Lama- lama kedonyan.
Penulis:
KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang
Editor : Ainul Hafidz