JombangBanget.id - Pengasuh PP Al Amanah Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, KH Abdul Kholiq Hasan, menjelaskan pentingnya bersandar kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.
’’Tidak ada kemuliaan tanpa disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (10/9).
Gus Kholiq lalu cerita Khalid bin Walid, panglima yang selalu menang dalam perang.
Suatu ketika di tengah perang kopiahnya terjatuh. Dia pun berusaha mendapatkan kembali kopiah tersebut.
Usai perang para sahabat bertanya, kenapa dia ingin mendapatkan kopiah itu.
Khalid menjawab; Di kopiah itu ada beberapa helai rambut Rasulullah. Makanya setiap memakai kopiah itu dia selalu menang dalam perang.
Allah Ta'ala berfirman dalam QS Al-Qalam 4. Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung.
Kemuliaan akhlak Nabi SAW menjadi bukti bahwa siapa pun yang meneladaninya, akan mendapatkan kedudukan mulia di sisi Allah.
Bahkan, Allah menjadikan ketaatan kepada Nabi sebagai syarat kecintaan kepada-Nya:
Sebagaimana ditegaskan dalam QS Ali Imran 31.
Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosamu.
Baca Juga: Binrohtal: Ingin Dicintai Allah SWT Seperti Nabi Ibrahim? Intip Tiga Kuncinya di Sini
Dengan kata lain, tidak ada kemuliaan hakiki tanpa mengikuti jejak Rasulullah SAW.
Nabi SAW bersabda: Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.
Suatu ketika Nabi berkumpul dengan para sahabat. Tiba-tiba Nabi memanggil seseorang untuk duduk mendekat kepadanya.
Sahabat yang lain tanya; Kenapa dia disuruh mendekat? Karena semua sahabat juga ingin berdekatan dengan Nabi.
Nabi menjawab; Dia diminta mendekat karena paling banyak membaca salawat.
Nabi juga bersabda; Orang yang paling dekat dengan Nabi di surga yakni orang yang paling banyak baca salawat di dunia.
Imam al-Bushiri dalam Burdah menyatakan: Sesungguhnya kemuliaan seluruh rasul itu bersumber dari kemuliaanmu, dan sinar cahayamu adalah cahaya mentari dan bulan.
Syekh Abdul Qadir al-Jilani radiyallahu anhu berkata; Segala sesuatu yang tidak disandarkan kepada Rasulullah SAW adalah kehinaan, meskipun terlihat besar dan mulia di mata manusia.
Para wali Allah memahami bahwa jalan menuju maqam tertinggi hanya bisa dilalui dengan mencintai, memuliakan, dan meneladani Rasulullah.
Imam Syafi’i berkata: Aku lebih suka berada di dekat makam Rasulullah SAW daripada di surga, karena berada dekat beliau adalah bentuk cinta, sedangkan surga adalah hasil dari cinta itu.
Imam Syafi’i juga sangat mencintai keluarga Nabi SAW.
Dalam syairnya beliau menulis: Wahai Ahlul Bait Rasul, mencintaimu adalah kewajiban dari Allah dalam Alquran yang diturunkan. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz