JombangBanget.id – Pelaksaaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 1 Jombang kacau.
Selain ditemukan makanan tak layak konsumsi, distribusi makanan juga karut-marut.
Distribusi molor berjam-jam, hingga ratusan siswa tak kebagian jatah makan.
Pihak sekolah menyoroti kesiapan SPPG.
”Jadwal awal kami pengiriman kedua setelah TK, estimasi sekitar jam 09.00 WIB, tapi bisa dilihat sendiri, sekarang sudah jam 11.00 belum datang,” ungkap Kepala SMPN 1 Jombang, Rudy Priyo Utomo, sembari beberapa kali melakukan pengecekan di lorong sekolah tempat MBG didrop, Senin (8/9).
Keterlambatan pengiriman MBG merepotkan sekolah. Sebab, distribusi MBG kepada 993 siswa melibatkan tenaga dari sekolah.
Ada guru dan siswa yang piket setiap hari untuk mendistribusikan MBG. Setiap pukul 09.00 WIB guru sudah siap menata meja, untuk distribusi MBG.
Yoyok, sapaan akrabnya menjelaskan, jika sejak hari pertama pengiriman, hampir setiap hari masih terlambat.
Apalagi pengalaman sebelumnya, siswa mengeluhkan sayur basi.
”Mungkin karena sudah terlalu lama diungkep di dalam wadahnya itu dalam kondisi panas, apalagi pengirimannya selalu terlambat, jadi basi,” katanya.
Dikhawatirkan makanan yang basi berdampak pada kesehatan siswa.
Baca Juga: Masih Ada PR! Meski Tepat Waktu, Kualitas Menu MBG di Jombang Disorot
Menurut laporan dari siswa dan orang tua, beberapa makanan yang dikirim ditemukan dalam kondisi tidak layak konsumsi.
”Sayur ada yang basi, ayamnya juga ada yang masih merah, seperti belum matang. Ini dikhawatirkan berdampak pada kesehatan siswa,” tambahnya.
Seolah tak ada perbaikan, pengiriman MBG kemarin (8/9) juga terlambat, yang semula dijadwalkan datang pukul 09.00 WIB, justru datang sekitar pukul 12.00 WIB.
”Ini mengganggu waktu makan siswa,” ujarnya.
Masalah lainnya, pengiriman 3 September 2025 lalu juga terjadi kekurangan.
Sebanyak 529 porsi tidak dikirim atau Setara dengan kekurangan di 16 kelas dari total 31 kelas.
Meski sempat ada rencana penggantian makanan yang kurang, hingga kini belum ada tindak lanjut nyata dari pihak penyedia.
”Kami sudah berencana membuat surat permohonan resmi untuk penggantian. Ini bentuk perlindungan terhadap hak siswa. Kami minta penggantiannya dikirim minggu ini, sempat ditawarkan Kamis, tapi kami tolak, karena kamis tidak sampai sore,” tegas Yoyok.
Agar keterlambatan tersebut tak terjadi terus menerus hingga menyebabkan kegiatan siswa terganggu, pihak sekolah berharap Dewan Pendidikan Kabupaten Jombang untuk ikut mengevaluasi pelaksanaan MBG di sekolah.
Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Jombang, Cholil Hasyim, menyatakan bahwa pihaknya akan mendampingi proses evaluasi program tersebut.
”Kami datang atas undangan SMPN 1 Jombang untuk mereview pelaksanaan MBG sejak 1 September 2025. Kami menerima laporan keterlambatan dan kekurangan pengiriman. Untuk kekurangan memang hanya terjadi pada Rabu, tapi tetap perlu perbaikan serius,” kata Cholil.
Cholil menegaskan, penggantian makanan yang kurang telah disanggupi pihak vendor, meski realisasinya masih ditunggu.
”Kami imbau agar ini tidak terulang. Jika sekolah merasa dirugikan, bisa saja mempertimbangkan sanksi atau evaluasi kontrak. Tapi itu kami kembalikan kepada pihak sekolah,” ujarnya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi terkait keluhan tersebut, Lilis Wijayati vendor SPPG Kepatihan Yayasan Puspa Wijaya Abadi mengatakan akan melakukan pengecekan terlebih dahulu.
”Saya akan kroscek dulu terkait hal tersebut,” singkatnya. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz