JombangBanget.id – Jumlah peternak sapi di Kabupaten Jombang terus mengalami penurunan.
Dinas Peternakan Jombang mencatat, pada 2024 jumlah peternak sapi potong maupun sapi perah menurun tajam.
Pemkab berupaya menggeliatkan semangat warga menekuni usaha peternakan.
Pada 2024, jumlah peternak sapi potong mencapai 26.381 orang, sedangkan pada 2025 turun menjadi 19.362 orang.
Penurunan peternak sapi perah lebih parah lagi, dari 2.867 orang peternak pada 2024, sekarang hanya tersisa sebanyak 243 peternak pada 2025.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan Jombang, Moh Saleh, menyampaikan tren penurunan ini berimplikasi pada populasi ternak.
Pada awal 2025, populasi sapi potong hanya tersisa 47.049 ekor dari 64.106 ekor di tahun sebelumnya.
Populasi sapi perah juga turun, dari 8.343 ekor menjadi 7.607 ekor.
”Kondisi ini harus segera ditangani. Peternak kita perlu mendapat dukungan agar tidak semakin banyak yang meninggalkan usaha ternak,” ujar Moh Saleh, Rabu (3/9).
Sebagai langkah strategis, Dinas Peternakan Jombang menyiapkan program dengan slogan “Satu Dusun Satu Wirausaha Ternak”.
Program ini menargetkan tumbuhnya wirausaha baru di bidang sapi, kambing, maupun ayam melalui stimulan dari pemerintah.
Baca Juga: Sapi Mati Terpapar PMK, DPRD Jombang Minta Pemkab Berikan Ganti Rugi kepada Peternak
”Dengan adanya stimulan, peternak bisa kembali bergairah mengembangkan usaha. Kita ingin setiap dusun melahirkan wirausaha baru yang kuat,” jelas Saleh.
Untuk memperkuat keberlanjutan, dinas peternakan juga menyiapkan skema kemitraan “Bapak Asuh” yang akan dimulai 2026.
Melalui pola ini, calon peternak akan mendapat dukungan dari mitra dalam bentuk modal, pendampingan, hingga akses pasar.
”Model kemitraan Bapak Asuh lebih efektif menjalin hubungan antara peternak dan mitra. Pemerintah tetap hadir memberi pembinaan, tetapi keberlanjutan usaha lebih terjamin dengan pola kemitraan,” tutur Saleh.
Tahun 2025 menjadi masa perintisan dengan uji coba pengelolaan ternak unggas di Desa Keras, Kecamatan Diwek.
Program ini akan menjadi percontohan sebelum diterapkan secara luas.
”Di 306 desa kita buatkan maket mekanisme pengembangan ternak sesuai potensi masing-masing. Ada yang cocok untuk sapi, ada yang unggas, ada juga yang kambing. Dengan begitu arah pengembangan lebih jelas,” pungkasnya. (yan/naz)
Editor : Ainul Hafidz