Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Musim Tanam Tebu di Jombang Terancam Terganggu, Buntut Ribuan Ton Gula Masih Mengendap di Gudang

Ainul Hafidz • Rabu, 3 September 2025 | 22:23 WIB
HADAPI TANTANGAN: Petani di Jmobang bersiap menghadapi tanam tebu.
HADAPI TANTANGAN: Petani di Jmobang bersiap menghadapi tanam tebu.

JombangBanget.id  – Janji pemerintah menyerap gula petani hingga kini belum juga terealisasi.

Ribuan ton gula petani masih menumpuk di gudang-gudang pabrik gula (PG).

Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu musim tanam tebu berikutnya.

Wakil Ketua Umum DPN Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Basyarudin saleh menyebut, belum adanya realisasi pembelian sangat memukul petani.

”Gula masih menumpuk di gudang. Padahal janji penggelontoran dana oleh Danantara untuk membeli gula sangat ditunggu,” ujarnya, Rabu (2/9).

Ia menambahkan, dampaknya bukan hanya pada keuangan petani, tetapi juga siklus tanam dan perawatan kebun.

”Musim tanam bisa mundur, perawatan terganggu, kualitas tebu menurun,” imbuhnya.

Menurutnya, mayoritas petani di Jombang saat ini melakukan rawat ratoon—merawat tebu yang sudah ditebang tanpa menanam baru.

Sementara bongkar ratoon atau tanam baru biasanya dilakukan pada Juni–Juli.

”Idealnya tiga kali musim tanam baru bongkar. Tapi karena pembiayaan tersendat, banyak yang belum bisa tanam atau merawat optimal,” jelasnya.

APTRI mendesak pemerintah segera merealisasikan komitmen penyerapan gula petani.

Baca Juga: 100 Ribu Ton Gula Mandek, Petani Tebu di Jombang Terancam Gagal Tanam Lagi

”Kalau pemerintah serius ingin swasembada gula nasional, harus ada solusi nyata. Gula petani harus segera diserap,” tegas Basyarudin.

Senada, petani tebu Sawung Agus Basuki menilai yang dibutuhkan petani bukan bantuan bibit atau subsidi, melainkan kepastian harga dan penyerapan hasil panen.

”Untuk masalah gula saat ini masih belum ada realisasinya. Memang sudah ada berita bagus, tapi kami yang di bawah ini masih menunggu,” tegasnya.

Saat ini petani menghadapi tantangan pembiayaan. Setelah masa panen, lahan harus segera dirawat agar bisa kembali produktif.

Namun, karena hasil penjualan gula belum diterima, petani terpaksa harus mencari modal tambahan dari luar.

”Setelah ditebang itu kan butuh perawatan. Sementara ya, gali lubang tutup lubang. Biasanya pinjam ke koperasi. Kalau tidak cukup, ya cari sumber lain,” imbuh salah satu petani tergabung di Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR) Arta Rosan Tijari PG Tjoekir.

Kondisi ini semakin menekan petani, apalagi jika harga pupuk tinggi dan biaya perawatan terus meningkat.

Tanpa adanya penyerapan hasil panen pemerintah, keberlangsungan musim tanam dan kualitas produksi tebu rakyat dikhawatirkan akan menurun.

”Kami ini cuma butuh kepastian hasil panen dibeli. Itu saja sudah cukup membantu,” kata Sawung.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 100 ribu ton gula milik petani tebu di Kabupaten Jombang hingga kini menumpuk di sejumlah tempat, terutama di gudang-gudang pabrik gula.

Harga gula yang anjlok ditambah lagi membanjirnya gula rafinasi di pasaran membuat petani tebu semakin terpuruk.

”Saat ini ada sekitar 100 ribu ton gula petani yang belum terserap,” terangya Wakil Ketua Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Basyarudin Saleh.

Pemerintah sebenarnya sudah menyepakati penyelamatan gula petani dengan mekanisme penyerapan melalui lembaga pengelola investasi negara (Danantara, Red) senilai Rp 1,5 triliun.

Skema itu, lanjutnya, setelah APTR seluruh Indonesia mengadakan pertemuan dengan Kementerian Perekonomian, Badan Pangan Nasional, dan didukung Komisi IV DPR RI.

Namun, hingga kini janji itu belum terealisasi di Jombang.

Sementara itu, sekitar 4 ribu ton gula milik petani tebu di Jombang hingga kini masih menumpuk di gudang Pabrik Gula (PG) Tjoekir di Desa Cukir, Kecamatan Diwek.

Pasalnya, petani kesulitan menjual gula. Meski sudah enam kali dilelang, hingga kini belum ada yang membeli.

General Manajer PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) PG Tjoekir Abdul Aziz Purmali menjelaskan, kondisi ini cukup memprihatinkan dan sempat memicu kekhawatiran dari petani.

”Jadi begini, untuk PG Tjoekir ini ada gula petani yang belum terjual sejak satu setengah bulan lalu. Jumlahnya kurang lebih hampir 4 ribu ton,” kata Aziz dikonfirmasi, Senin (25/8).

Padahal, sudah dilakukan lelang hingga enam kali. ”Sudah kita lelang enam kali, tapi belum juga ada yang menawar,” imbuh dia. (fid/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#harga gula #aptri #gula #pabrik gula #musim tanam #DPN APTRI #petani tebu #Jombang #tebu #Petani