JombangBanget.id - Nasib ribuan ton gula petani yang sudah sebulan lebih menumpuk di gudang Pabrik Gula (PG) Tjoekir, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang mulai ada titik terang.
Pemerintah melalui Danantara disebut siap menyerap gula dengan harga Rp 14.500 per kilogram sesuai harga eceran tertinggi (HET).
Meski begitu, petani memberikan catatan keras kepada pemerintah.
Sawung Agus Basuki, salah satu petani tebu yang tergabung dalam Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR) Arta Rosan Tijari PG Tjoekir menegaskan, sudah ada titik terang terkait nasib gula petani yang menumpuk di gudang PG Tjoekir.
”Jadi, untuk penyerapan gula sudah ada kejelasan dengan Danantara. Harganya sudah deal Rp 14.500 per kilogram, sesuai HET. Bahkan ada perwakilan petani yang sudah ke sana, sekarang tinggal proses transfer saja. Kemungkinan besar minggu ini sudah diproses,” kata Sawung kepada Jawa Pos Radar Jombang, Kamis (28/9).
Dalam pertemuan daring dengan pemerintah pusat, Sawung menyebut sempat ada tawaran program bantuan pupuk dan bibit dari pusat.
Namun, tawaran tersebut ia tolak.
”Kemarin waktu zoom meeting dengan Kementan saya tegas menolak ada bantuan pupuk dan bibit gratis. Petani tebu tidak perlu itu. Lebih penting hasil panen kami dibeli sesuai dengan biaya produksi,” imbuh dia.
Setiap petani tebu sudah memiliki perhitungan sendiri terkait biaya dan hasil.
Ketika hasil panen dibeli sesuai dengan harga yang layak, maka petani bisa mandiri tanpa bergantung pada bantuan pemerintah.
”Kami ini tidak meminta belas kasihan. Cukup belilah hasil tani kami, gula, dan tetes dengan harga yang sesuai. Kalau menerima bantuan itu malah ribet dan justru akan menambah persoalan di lapangan,” ujar Sawung yang juga Kepala Desa (Kades) Cukir ini.
Baca Juga: 100 Ribu Ton Gula Mandek, Petani Tebu di Jombang Terancam Gagal Tanam Lagi
Ia menegaskan, selama ini yang dibutuhkan petani berkaitan kejelasan dan kepastian dalam pemasaran hasil panen.
”Bukan janji bantuan yang tidak menyentuh persoalan inti. Petani tebu ini punya hitungan. Biaya produksi sekian, harga jualnya sekian, itu sudah ada rumusnya. Jadi, tolong hargai kami dengan membeli hasil panen kami secara adil,” kata Sawung.
Seperti diberitakan sebelumnya, sekitar 4 ribu ton gula milik petani tebu di Jombang hingga kini masih menumpuk di gudang Pabrik Gula (PG) Tjoekir di Desa Cukir, Kecamatan Diwek.
Petani kesulitan menjual gula. Meski sudah enam kali dilelang, hingga kini belum ada yang membeli.
General Manajer PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) PG Tjoekir Abdul Aziz Purmali menjelaskan, kondisi ini cukup memprihatinkan dan sempat memicu kekhawatiran dari petani.
”Jadi begini, untuk PG Tjoekir ini ada gula petani yang belum terjual sejak satu setengah bulan lalu. Jumlahnya kurang lebih hampir 4 ribu ton,” kata Aziz dikonfirmasi, Senin (25/8).
Padahal, sudah dilakukan lelang hingga enam kali.
”Sudah kita lelang enam kali, tapi belum juga ada yang menawar,” imbuh dia.
Namun, harapan kembali muncul setelah ada kabar dari pemerintah pusat yang dikabarkan siap menyerap gula petani.
”Alhamdulillah, Jumat kemarin ada kabar baik. Danantara akan membeli gula petani. Ini jadi angin segar agar petani kembali semangat untuk budi daya,” tutur dia.
Menurut Aziz, keterlambatan serapan gula petani tahun ini merupakan fenomena baru. Tahun-tahun sebelumnya, penjualan gula berlangsung lancar.
”Mungkin karena harga gula internasional sekarang lebih rendah dari harga eceran dalam negeri, jadi pasar agak lambat. Tapi ini baru terjadi tahun ini, sebelumnya tidak,” ujar Aziz.
Secara teknis, petani yang memasok tebu ke PG Tjoekir tergabung dalam koperasi atau lembaga tani.
”Di PG Tjoekir ini ada tujuh koperasi. Mereka mengirim tebu, digiling, lalu mendapatkan bagi hasil. Biasanya gula hasilnya dilelang bersama PT SGN,” tutur dia.
Teknis pembelian Danantara saat ini masih dalam pembahasan bersama PT ID Food, PT SGN, dan APTR.
”Informasinya hari ini (kemarin) mereka akan menyusun mekanisme tata kelola pembelian gula petani. Harganya pembelian juga masih dibahas,” tutur Aziz.
Diharapkan, penyerapan gula petani bisa berjalan lancar tidak hanya saat ini, tetapi hingga akhir musim giling.
”Kami masih giling sampai Oktober. Harapannya penyerapan gula petani lancar hingga selesai musim,” kata Aziz. (fid/naz)
Editor : Ainul Hafidz