ALHAKUM al-takatsur. Hatta zurtum al-maqabir.
Ini soal duit dan kematian. Terma ini menyiratkan berbagai pemahaman.
Pertama, manusia itu tak kan pernah puas perkoro duit, selalu kurang dan terus nguber. Gak akan pernah mau berhenti, kecuali mati.
Kedua, terpampang jelas di depan mata siapa saja, bahwa kain kafan tidak ada sakunya.
Makanya, wong mati iku gak ada yang bawa duit. Artinya, harta benda, aset, kekayaan seberapapun sungguh tidak ada artinya apa-apa di liang kubur.
Maka benarlah wasiat pendiri Apple, i-phone, Steve Jobs yang kaya raya dan mati karena kanker pankreas.
Saat sekarat dia berucap kira-kira begini:’’.. Seberapapun banyaknya harta, ternyata tidak ada artinya apa-apa di hadapan kematian. Maka buatlah kenang-kenangan. Dan saya sudah membuat kenang-kenangan.’’
Itu lho wong kafir, tidak ngerti Alquran, gak ngerti syariat Islam, tapi nasihatnya sangat religius, hanya saja ruangannya berbeda.
Bagi Stave Jobs, orang yang mulia itu orang yang memberi, yang membuat karya yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain. ’’Khair al-nas anfa’uhum li al-nas.’’
Bukankah itu pesan agama kita..? Katanya, gajah mati meninggalkan gading.
Lha kita manusia, mati menginggalkan apa..? Buatlah kenang-kenangan indah seberapapun, sesuai kamampuan anda.
Baca Juga: Tafsir Aktual: Kedonyan
Yang punya ilmu, seberapapun, ajarkanlah. Yang punya kuasa, buatlah kebijakan yang maslahah bagi umat.
Bupati masuk surga, mungkin bukan karena ibadahnya tekun, wiridannya panjang, hafal Alquran lancar, melainkan karena kebijakannya maslahah dan manfaat untuk rakyat.
Tetapi, dari siratan ayat kaji ini, membuat kenangan paling gampang ya lewat takatsur, lewat uang itu sendiri, dengan cara banyak-banyak disedekahkan.
Jangan sampai mati malah ninggal utang..? Itu hak Adam yang hanya bisa beres oleh yang bersangkutan.
Meski Maha Kuasa, tapi Tuhan tidak mau turun tangan menyelesaikan. Bahkan nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam tidak mau mensalati.
Rasulullah SAW sedang duduk-duduk santai bersama para sahabat, lalu datang janazah dan seorang pengantar mendekati Rasulullah SAW sembari memohon agar beliau berkenan mensalati.
Rasul bertanya:’’A’alaih dain..” Punya utang, nggak? Mereka menjawab: ’’Mboten”. Lalu beliau mensalati bersama mereka.
Selang beberapa waktu, datang janazah lagi dan beliau dimohon mensalati.
Bertanya: ’’Punya utang, nggak..?’’ Yang segera dijawab ”mboten”.
Dan beliau berkenan mensalati. Sebentar kemudian datang janazah ke tiga dan beliau dimohon mensalati. Ditanya dan jawabannya: ’’Ya, dia punya utang.’’
Rasululah SAW geremeng dan memberi perintah kepada mereka: ’’Sudah.., Salati sendiri kawanmu itu.’’
Karena beliau tidak berkenan, maka mereka diam dan sedih.
Baca Juga: Kalam Jumat: The Hell (1)
Lantas seorang sahabat angkat bicara merayu Rasulullah SAW: ’’Saya yang menanggung utangnya. Tolong dipun salati..’’ Dan beliau berkenan.
Bersambung ... (*)
Penulis:
KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang
Editor : Ainul Hafidz