Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Binrohtal: Bergembira Sambut Maulid, Ini Bentuk Cinta Nabi

Rojiful Mamduh • Selasa, 26 Agustus 2025 | 13:36 WIB
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - Pengasuh PP Tahfidzul Quran Roudhotul As'adiyah, Sumbermulyo, Jogoroto, Jombang, Gus As'ad Nawawi, menjelaskan pentingnya gembira menyambut bulan kelahiran Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.

’’Gembira menyambut bulan maulid berarti gembira menyambut kedatangan Nabi Muhammad ke dunia. Ini membuka ampunan dan rahmat Allah Ta’la,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Senin (25/8).

Ketika Suwaybah, budak perempuan Abu Lahab, datang memberi kabar gembira tentang kelahiran keponakannya (Nabi Muhammad), Abu Lahab sangat gembira sehingga memerdekakan Suwaybah.

Abu Lahab kafir dan memusuhi Nabi sehingga dicap masuk neraka dalam QS Al Lahab.

Setelah Abu Lahab wafat, ada seseorang dari keluarganya melihatnya dalam mimpi, dan bertanya bagaimana keadaannya.

Abu Lahab menjawab: ’’Aku berada di neraka, hanya saja azabku diringankan setiap hari Senin karena aku memerdekakan Suwaybah karena gembira atas kelahiran Nabi Muhammad.’

Jika orang kafir seperti Abu Lahab saja mendapatkan manfaat karena bergembira atas kelahiran Nabi, maka bagaimana dengan umat Islam yang beriman dan menyambut maulid dengan cinta, doa, dan salawat?

Nabi bersabda; Barang siapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di surga.

Cinta kepada Nabi membuat kita semangat melaksanakan ajaran Nabi. Serta menjalankan sunah-sunahnya.

Imam Ibn Qayyim menyatakan; Cinta kepada Nabi adalah tiang utama keimanan.

Alkisah, ada dua orang sahabat. Salah satunya masuk surga, dan yang lain masuk neraka.

Baca Juga: Binrohtal: Ini Alasan Kenapa Kubur Jadi Ujian Pertama yang Paling Berat di Akhirat

Sahabat yang di surga ini berdoa kepada Allah: ’’Ya Allah, temanku di dunia dahulu sangat mencintaiku, dia selalu berbuat baik, mohon masukkan ia ke surga bersamaku.’’

Akhirnya Allah Ta’ala mengabulkan permintaan itu.

Jika cinta kepada teman biasa saja dapat menjadi wasilah keselamatan, maka bagaimana dengan cinta kepada sayyidul anbiya, pemimpin para nabi?

Gus As’ad juga mengutip QS Al-Anfal ayat 33.

Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di antara mereka.

Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun (beristighfar).

Di situ disebutkan dua sebab utama penghalang azab: Kehadiran Nabi di tengah umat dan istighfar.

Nabi sudah wafat secara fisik. Tapi kita bisa menghadirkan Nabi dengan cara membaca salawat kepadanya.

Imam as-Suyuthi dan al-Qurthubi menafsirkan bahwa "kehadiran Nabi" bisa bermakna ajaran dan cintanya yang hidup dalam umat.

Salawat dan peringatan maulid termasuk bentuk kehadiran spiritual Nabi.

Imam Jalaluddin as-Suyuthi berkata; Merayakan maulid Nabi adalah bentuk syukur kepada Allah atas diutusnya Nabi sebagai rahmat bagi alam semesta.

Alkisah, ada seorang penjual kain biasa di Madinah yang setiap hari memberi salam ke makam Nabi dan bersalawat dengan air mata.

Ketika ia wafat, banyak ulama bermimpi bahwa dia diberi tempat mulia di surga.

Ketika ditanya mengapa, jawabannya: ’’Karena cintanya kepada Nabi.’’ (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#Polres Jombang #cinta nabi #masjid #maulid nabi #maulid nabi muhammad #Binrohtal #Jombang