JombangBanget.id - Pengasuh Pesantren Tahfidzul Quran Al-Hafidz, Trawasan, Sumobito, Jombang, Gus M Hafidz Alhafiz, menjelaskan pentingnya mensyukuri kemerdekaan.
’’Kemerdekaan adalah nikmat besar dari Allah Ta’ala yang patut disyukuri,’’ tuturnya, saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (22/8).
Allah Ta’ala berfirman dalam QS Ibrahim 7; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.
Bangsa yang merdeka dapat menjalankan agamanya dengan bebas, membangun peradaban, dan menjaga martabatnya.
Syukur terhadap kemerdekaan bukan hanya dengan ucapan, tetapi juga tindakan nyata yang mencerminkan nilai iman, nasionalisme, dan tanggung jawab sosial.
Cara pertama mensyukuri kemerdekaan yakni dengan ibadah.
’’Ibadah dengan tenang merupakan bentuk mensyukuri kemerdekaan,’’ terangnya.
Kemerdekaan membuat umat Islam bisa menjalankan syariat dengan tenang.
Karenanya, menjaga keamanan dan kedamaian adalah bentuk syukur terhadap nikmat merdeka.
Kedua, kita juga perlu memupuk cinta tanah air (hubbul watan minal iman).
Khalifah Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu berkata: Jika aku berada di tempat yang tinggi, dan melihat suatu kaum yang malas membangun negerinya, maka aku akan turun untuk menegur mereka.
Baca Juga: Binrohtal: Ketika Bala Datang, Ini Jurus Ampuh ala Ulama Salaf
Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya menjaga negara sebagai bentuk menjaga agama dan umat.
Cinta tanah air bukanlah sekadar emosi, melainkan semangat menjaga negeri dari kehancuran moral, sosial, dan politik.
Ketiga, menjaga persatuan dan kesatuan.
Islam sangat menekankan pentingnya persatuan.
Perpecahan adalah awal kehancuran umat. Sebagaimana disebutkan dalam QS Ali Imron 103.
Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya ibarat bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.
Maka, menjaga persatuan antar sesama anak bangsa adalah bentuk nyata dari keimanan dan kecintaan kepada negara.
Keempat, mengisi kemerdekaan dengan nilai kemanusiaan dan agama. KH Hasyim Asy’ari mengajarkan bahwa kemerdekaan adalah amanah.
Beliau mendorong para santri dan ulama untuk terus berjuang membela dan membangun negeri dengan ilmu dan amal.
Kelima, berjuang sesuai dengan posisi dan peran. Syukur atas kemerdekaan juga diwujudkan melalui kontribusi nyata sesuai profesi.
Petani sebagai pahlawan pangan, menjaga ketahanan bangsa. TNI dan Polri sebagai penjaga ketertiban dan pelindung rakyat.
Guru dan kiai sebagai pendidik generasi bangsa.
Pelajar dan generasi muda sebagai pemilik masa depan, harus terus belajar, meningkatkan kualitas diri, dan memanfaatkan potensi yang dimiliki. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz