SUNGGUH Tuhan geregetan kepada orang yang hobi menumpuk harta, tapi pelit sedekah.
Sebaliknya Dia menyukai orang yang berderma dan berbagi.
Kaya raya dan suka berbagi…Wow, surga menantinya. Orang, kok sampai bertakatsur, itu pasti bukan karena kebutuhan, melainkan karena keinginan.
Orang beriman harusnya paham, bahwa rejeki itu mutlak dari Tuhan, titik. Perkoro manusia berusaha itu sudah pasti.
Bekerja adalah kewajiban, bekerja adalah ibadah, tetapi tidak ada konsekuensi logis dengan besaran rejeki.
Penulis memperhatikan ayam-ayam yang mengais-ngais makanan di sampah belakang rumah. Dicekeri hingga sampah morat-marit.
Ada yang lama ceker-ceker, tapi tidak mendapatkan makanan, hanya sedikit dan kecil.
Ada yang baru datang dan langsung mendapat gangsir gede, sejenis jengkerik. Langsung Lhap.
Jangan sekali-kali merasa, bahwa hasil usaha anda adalah murni hasil kerja keras anda, hasil kelihaian anda dalam berusaha.
Jika anda masih ngotot, coba renungkan pertanyaan berikut ini.
Sebut saja anda penjual bakso. Benar, anda sudah mempersiapkan segalanya dengan bagus, lezat dan menawan.
Baca Juga: Kalam Jumat: The Hell (3)
Ya, tapi siapa yang menggiring pembeli datang ke kios anda membeli bakso anda..? Anda pedagang bakso keliling.
Ya, tapi siapa yang menggerakkan, yang mendorong pembeli di dalam rumah, keluar untuk membeli bakso anda..?
Pernahkah anda memperhatikan kios dagang yang berderet memanjang dan banyak. Ukuran kiosnya sama, barang yang dijual sama, jam bukanya sama.
Apakah larisnya sama..? Ya, usaha manusia sangat penting, tetapi tidak mutlak menentukan besaran rezeki.
Maka, sebagai muslim, jangan lupa berdoa setiap kali memulai bekerja. Bekerjanya dihitung ibadah dan rezekinya barakah.
Setelah Abu Bakar al-Shiddiq radiyallahu dilantik menjadi khalifah menggantikan Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam, pagi harinya beliau memanggul barang dagangan dan berjalan menuju arah pasar.
Di jalan berpapasan dengan Utsman ibn Affan dan Abdurrahman bin Auf.
Lalu disapa: ’’Pagi-pagi begini, Tuan khalifah hendak ke mana..?’’
Abu Bakr menjawab: ’’Seperti biasa, ke pasar berjualan.’’
Mendengar jawaban itu, mereka tertegun dan diam sebentar, lalu menyela: ’’Permisi, mohon tuan khalifah berhenti sejenak.’’
Di tengah-tengah itu, Utsman dan ibn Auf berbicara lirih dan berembuk, lalu menghasilkan kesepakatan.
Keduanya menghadap Abu Bakr dan berkata: ’’Kami mohon tuan kembali pulang dan sejak hari ini tuan tidak usah berjualan ke pasar..’’
Abu Bakr kaget dan menohok: ’’Tapi saya berkewajiban menafkahi keluarga.’’ ’’Ya, kami sudah memutuskan gaji khalifah diambil dari Baitul Mal, Kas Negara.’’
Inilah awal gaji pejabat dalam Islam, halal.
Meski tidak ada keterangan berapa nominalnya, tapi dari ilustrasi kisah di atas, dari kebersihan jiwa mereka, kondisi kas negara dan lain-lainnya, rasanya hanya seukuran nafkah keluarga secara wajar.
Lagian, bisa pula dilihat dari perkiran hasil kerja dagang di pasar lokal. (*)
Penulis:
KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang
Editor : Ainul Hafidz