JombangBanget.id - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik tentang pentingnya menjalankan perintah Tuhan.
’’Telah Kudengar doamu ... sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari ketiga engkau akan pergi ke rumah Tuhan,’’ tuturnya mengutip 2 Raja-raja 20:5.
Setiap waktu saya gunakan untuk mendengar lagu-lagu pujian dan ikut memuji. Baik melalui tape recorder atau pun radio.
Dari yang saya dengar, saya pun menulis kata-kata dari lagu itu.
Hal ini saya lakukan saat saya mengalami sakit paru-paru beberapa tahun yang lalu, dan saya mengalami mukjizat Tuhan.
Saya sembuh jauh lebih cepat dari waktu yang diperkirakan.
Beberapa orang bertanya, apa yang saya lakukan dan untuk apa perangkat (radio, tape recorder dan buku tulis) yang ada di tempat tidur saya saat saya sakit?
Saya katakan bahwa saya berdoa kepada Tuhan.
Sambil menunjuk ke arah perangkat itu, saya mendengar pujian dan memuji Tuhan, saya tulis dan saya imani, saya disembuhkan Tuhan.
Saya membutuhkan pertolongan Tuhan, tetapi saya juga melakukan apa yang bisa saya lakukan.
Dalam kondisi tubuh yang sangat lemah, pernafasan yang terganggu dan banyak luka di tenggorokan, saya tetap bersyukur dengan menyanyikan lagu pujian kepada Tuhan.
Baca Juga: Renungan Minggu: Tetap Kuat di Dalam Tuhan
Salah satu lagu yang saya nyanyikan hampir setiap hari judulnya ’’Engkau Tuhan Penyembuhku, Kau sembuhkan sakitku’’.
Saya diingatkan selalu dengan firman Tuhan yang berkata bahwa hati yang gembira adalah obat yang manjur.
Jadi apabila kita memohon pertolongan kepada Allah, kita harus mau melakukan apa pun yang bisa kita lakukan, menggunakan sarana apa pun yang Dia berikan.
Sama dengan yang dilakukan oleh raja Hizkia. Ayat di atas adalah jawaban Allah, melalui nabi Yesaya atas doanya.
Ketika Hizkia mendengar bahwa ia akan mati, ia kemudian berpaling dan berdoa memohon mujizat, dan Allah berjanji untuk memperpanjang hidupnya lima belas tahun lagi.
Hizkia berpaling dan berdoa kepada Allah, artinya dia bertindak mengalihkan fokusnya dari masalah kepada Allah.
Kemudian Yesaya memerintahkan untuk menaruh kue ara pada barah (2 Raja-raja 20:5-7).
Allah memberikan kesembuhan, tetapi menggunakan usaha manusia dan sarana-sarana alami.
Sebuah ilustrasi, pada suatu pagi, ada dua orang anak berjalan menuju sekolah.
Tiba-tiba mereka sadar bahwa apabila mereka tidak bergegas, maka mereka akan terlambat.
Salah satu dari mereka mengajak berhenti sejenak dan berdoa supaya mereka tidak terlambat masuk sekolah.
’’Tidak,’’ jawab yang lain, ’’ayo kita berdoa sambil lari secepat mungkin.’’
Apabila kita memohon kepada Allah agar Dia mengerjakan sesuatu bagi kita, maka kita pun harus siap untuk melakukan bagian kita.
’’Berdoalah seakan-akan segalanya tergantung pada Allah. Bekerjalah seakan-akan segalanya tergantung pada kita. Ora et labora…Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz