JombangBanget.id - Pengasuh PP An-Nur Bayyin Jabon sekaligus Wakil Sekretaris MUI Jombang, KH Achmad Cholili Alhafiz, menjelaskan pentingnya menjalankan tugas dengan amanah dan takwa.
’’Aparatur negara disebut Alquran ulil amri. Wajib ditaati dengan ketentuan mampu mengaktualisasi nilai-nilai ajaran Allah Ta’ala dan RasulNya dilandasi iman dan takwa,’’ tuturnya, saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Jumat (1/8).
Tatkala seorang aparat melaksanakan tugas dengan bingkai takwa yang baik, maka akan menghasilkan kinerja yang presisi.
’’Karena kerja yang dilakukan bagian dari ibadah goiru mahdoh yang tetap harus termonitor oleh takwa,’’ terangnya.
Menjadi aparatur negara bukan hanya amanah duniawi, melainkan juga tanggung jawab ukhrawi.
Ketika pekerjaan dilakukan dengan niat ibadah dan dalam bingkai takwa, maka akan menghasilkan kinerja yang presisi, jujur, dan profesional.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia menyempurnakannya (secara profesional).
Allah Ta’ala berfirman di QS Annisa 59. Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), serta pemimpin di antara kamu.
Ayat ini menjadi landasan aparatur negara termasuk ulil amri, yang harus ditaati selama mereka menaati Allah dan Rasul-Nya.
Ketaatan kepada ulil amri bukan bentuk penghambaan kepada manusia, tetapi bagian dari struktur ketaatan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Tugas aparatur negara merupakan bentuk ibadah goiru mahdoh (ibadah non-ritual), pekerjaan duniawi yang bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah dan dilaksanakan sesuai syariat.
Baca Juga: Binrohtal: 4 Hal Ini Ternyata Sudah Ditentukan Allah Sejak Dalam Kandungan
Nabi bersabda: Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Allah Ta’ala menjanjikan keberkahan, jalan keluar, dan rezeki yang tak terduga bagi orang-orang yang bertakwa.
Sebagaimana disebutkan dalam QS Attalaq 2-3.
Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Takwa mendorong aparat untuk tetap jujur, bertanggung jawab, dan profesional, meskipun tak ada yang melihat atau mengawasi.
Karena ia yakin, pengawasan Allah lebih sempurna dari segala bentuk pengawasan manusia.
Sayyidina Umar bin Khattab radiyallahu anhu dikenal dengan ucapannya: Andai ada seekor keledai tergelincir di Irak, niscaya Umar akan ditanya karenanya: Mengapa tidak kau ratakan jalan untuknya?
Imam al-Ghazali rahimahullah berkata: Baiknya rakyat karena baiknya para pemimpin.
Baiknya pemimpin karena baiknya para ulama. Baiknya ulama karena takutnya mereka kepada Allah Ta’ala.
Dikisahkan, Khalifah Umar bin Abdul Aziz radiyallahu anhu sedang menulis surat negara di malam hari.
Ketika anaknya datang untuk berbicara urusan pribadi, beliau memadamkan lampu dan menggantinya dengan lampu milik pribadi.
Sang anak bertanya, dan beliau menjawab: Minyak dalam lampu ini berasal dari Baitul Mal kaum muslimin.
Tidak halal aku menggunakannya untuk kepentingan pribadi.
Ini contoh nyata dari takwa yang diterapkan secara praktis dalam menjalankan tugas negara.
Iyas bin Mu’awiyah (seorang qadhi terkenal pada masa tabi’in) pernah diminta untuk memihak dalam perkara yang melibatkan kerabat dekatnya.
Ia menolak dengan tegas, dan berkata: ’’Sesungguhnya Allah tidak menerima keadilan yang setengah-setengah. Kalau aku berat sebelah karena hubungan keluarga, aku khianat kepada keadilan.’’
Ini contoh keadilan dan takwa harus lebih kuat daripada relasi pribadi dan tekanan kekuasaan.
Khalifah Umar bin Khattab pada masanya menerapkan sistem syurṭah (polisi keamanan) untuk menjaga pasar, masjid, dan masyarakat dari pelanggaran hukum.
Umar tidak segan menghukum pejabat atau aparatnya sendiri jika terbukti menyalahgunakan kekuasaan.
Umar berkata: ’’Aku tidak takut pada rakyatku yang miskin, tetapi aku takut pada pejabatku yang khianat.’’ (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz