TAKATSUR, maknanya menumpuk harta, jor-joran duit, banyak-banyakan asset.
Mendiskripsikan manusia geragas dan sangat ngoyo mencari uang.
Manusia model begini ini -di dalam Alquran- dibahas secara khusus dalam satu surah berjudul al-Takatsur.
Takatsra, yatakatsaru artinya banyak-banyakan. Secara bahasa memang berobjek umum, bisa dalam hal apa saja, baik kebajikan maupun keburukan.
Tetapi Alquran menggunakannya untuk makna khusus, yakni banyak-banyakan harta dengan konotasi negatif.
Tidak hanya pada surah kaji ini saja, di al-Hadid: 20 juga ditera begitu, ’’Wa takatsur fi al-amwal ..’’
Walhasil, kata takatsur itu konotasinya negatif, mengolok manusia yang kedonyan, menumpuk harta, tapi tak mau sedekah, tanpa mau berbagi.
Kaya raya itu boleh, tetapi pelitnya itu yang dicela.
Takatsur berbias pada ketidakseimbangan antara besaran aset dengan volume sedekah, antara kekayaan dan uang yang dibagikan kepada pihak yang membutuhkan.
Sungguh sangat jauh dan tidak pantas blas.
Bagaimana mungkin punya rumah mewah, mobil bagus lebih dari satu, deposito tak terhitung tapi tetangganya miskin, anak putus sekolah dibiarkan.
Baca Juga: Kalam Jumat: The Hell (3)
Tajam sekali Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam menyindir, bahwa tidak mungkin bisa masuk surga orang yang tidur dalam keadaan perut kenyang, sementara tetangganya kelaparan sepanjang malam.
Jika rumusan zakat aset itu dua setengah persen, maka stiap deposito satu miliar rupiah yang nongkrong di bank, pertahun wajib dizakati dua puluh lima juta rupiah.
Boleh dicicil bulanan, yang berarti setiap bulan mengeluarkan zakat sekitar 2 koma sekian juta. (25 dibagi 12).
You punya simpenan duit seratus juta, yo zakatono, biar lebih barakah.
Ada santri yang sangat hati-hati perkoro zakat penghasilan ini.
Setiap mendapatkan rezeki, apa saja, dari mana saja, berapa saja mesti dizakati, disedekahkan dua setengah persen.
Dia tidak mau menggunakan kadar nisab- nisaban seperti yang ditetapkan fikih.
Ya, karena perintah berinfak di dalam Alquran sifatnya umum. ’’.. Anfiqu min thayyibat ma kasabtum..’’ Infaq-kan penghasilan kerja kalian (Albaqarah 267).
Tentu lebih baik dan pasti rezekinya tambah berlimpah.
Nabi Musa alaihissalam pernah bertanya kepada Tuhan tentang amal apa yang paling disukai darinya.
Apakah salatku..? yang dijawab Tuhan: ’’Tidak’’. Apakah berzikirku..? juga tidak.
Apakah puasaku..? Juga tidak. Semua amal yang kamu lakukan itu manfaatnya hanya untuk dirimu pribadi.
’’Kok sedoyo mboten, lha terus nopo Gusti..?’’ Gusti Allah menjawab: ’’Sedekah’’.
Kebajikan bersedekah tidak hanya untuk kamu pribadi, melainkan juga untuk orang lain.
Dan saat kamu bersedekah, Aku ada di samping kamu, Aku tersenyum dan merestui.
You mau kaya, rezeki berlimpah, hidup berkecukupan..? Bersedekahlah.
Tuhan tidak pernah bohong. Sedekah itu ibarat mancing: Umpan kecil tentu tidak sama hasilnya dengan umpan lezat dan besar. (*)
Penulis:
KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang
Editor : Ainul Hafidz