JombangBanget.id - Pengurus MWCNU Gudo, Jombang, H Ahmad Falah, menjelaskan nasihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah.
’’Pertama, Islam cukup sebagai nikmat yang luar biasa,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (6/8).
Allah Ta'ala menyebut Islam sebagai nikmat terbesar dalam hidup seorang hamba.
Sebab, dengan Islam, manusia mendapat petunjuk yang benar, mengenal Tuhannya, dan tahu arah hidupnya.
Sebagaimana disebutkan dalam QS Almaidah 3.
Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu menjadi agamamu.
Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan membuatnya paham dalam agama.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata Islam adalah nikmat terbesar yang tidak akan bisa diganti dengan dunia seisinya.
Tanpa Islam, nikmat hanya dirasakan di dunia. Maksimal sepanjang usia kita.
Tapi di akhirat menderita selamanya. Sebaliknya, dengan Islam kita akan mendapat nikmat selama-lamanya di akhirat.
Sehingga seperti apapun di dunia tidak terasa berat.
Baca Juga: Binrohtal: Era Digital Bikin Mudah Tergelincir, Ini Filter Terbaik Jadi Kunci Selamat
Kedua, dalam kesibukan yang baik, cukuplah itu sebagai bentuk ketaatan bagimu.
Kesibukan seorang mukmin, bila diniatkan karena Allah Ta’ala dan berada dalam batas syar'i, bisa bernilai ibadah.
Seorang ibu yang sibuk mengurus anak, seorang pekerja yang mencari nafkah halal, atau seorang penuntut ilmu yang tekun belajar — semua ini adalah bentuk ketaatan bila diniatkan dengan benar.
Nabi bersabda; Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya.
Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu berkata: Aku tidak pernah menyesal atas sesuatu selain waktu yang telah berlalu tanpa aku gunakan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menulis: Setiap pekerjaan duniawi yang diniatkan untuk mencari rida Allah akan bernilai akhirat.
Ketiga, cukuplah kematian sebagai pelajaran. Kematian adalah nasihat terbaik.
Ia tidak berbicara, namun menyentuh hati yang lalai. Siapa yang merenungi kematian, maka dunia akan menjadi kecil di matanya, dan akhirat menjadi besar dalam tujuannya.
Sebagaimana disebutkan dalam QS Ali Imron 185. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.
Nabi bersabda; Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan (yaitu maut).
Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari.
Setiap kali satu hari pergi, maka hilanglah sebagian dari dirimu.
Dikisahkan bahwa Malik bin Dinar sering mengukir di dinding rumahnya tulisan: "Wahai jiwa, engkau pasti akan mati. Maka bersiaplah sebelum ajal menjemput. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz