Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Kalam Jumat: The Hell (6)

Ainul Hafidz • Jumat, 1 Agustus 2025 | 13:44 WIB
Rubrik opini KH Mustain Syafii.
Rubrik opini KH Mustain Syafii.

KONDISI mereka di neraka Huthamah digambarkan pada tiga ayat terakhir surah al-humazah ini.

Pertama, panasnya tembus hingga ke jantung, ’’al-lati tattali’ ‘ala al-af’idah”.

Kedua, mereka diukep rapet di dalamnya, ’’innaha ‘alaihim mu’shadah”.

Dan ketiga, mereka dirantai di tiang-tiang panjang, ’’fi ‘amad mumaddadah”.

Inilah bahasa Alquran yang menggambarkan secara singkat keadaan para Humazah dan Lumazah di neraka Huthamah nanti.

Tidak bisa dibayangkan dan tidak pula mudah diterjemah lebih ngeri lagi. Piye rasane.

Orang yang dirantai, terus diukep di dalam tungku api membara dan sakitnya tembus ke jantung. Kini ngaji bahasa Arab, bahwa ’’qalbu’’ itu tidak bermakna ’’Hati’’.

Tepatnya, qalbu itu artinya jantung. Alasannya: pertama, qalbu, dari ’’qalaba’’ artinya bolak-balik.

Sedangkan gerakan jantung adalah dag dig dug, bolak balik, karena kerja memompa darah.

Sementara hati tidak punya sifat atau gerakan begitu. Hati berfungsi sebagai filter. Bahasa Arabnya ’’kabid’’. Bukan kepala bidang.

Kedua, menurut al-Hajj: 46, bahwa di dalam tubuh kita, posisi qalbu itu ada di dalam rongga dada. ’’.. Wa lakin ta’ma al-qulub al-lati fi al-shudur’’.

Baca Juga: Kalam Jumat: The Hell (2)

Sengaja ditaruh di situ karena lebih aman, dilindungi tulang-tulang dada. Sedangkan letak hati ada di bawahnya, di area perut.

Ketiga, bila seseorang sedang mengalami hal dadakan dan mengejutkan, ketir-ketir, maka dia meletakkan tapak tangannya di daerah dada, di posisi jantung sambil berucap: ’’Aduh, rasane atiku gak karuwan, deg degan’’ dan tidak meletakkan tangannya di hati, daerah perut.

Ya, sebab jika di perut, iku wong wetenge senep.

Tapi kok terjemahan Indonesia, umumnya qalbu dimaknai hati..? Ya begitulah, sudah lumrah dan tidak apa-apa, pokoknya dipahami.

Sedangkan af’idah, bentuk jamak dari mufrad ’’fuad”, artinya gemerseng, tersulut.

Ketenggengen and melongo, digambarkan oleh surah Ibrahim: 43, ’’Wa af’idatahum hawa’’.

Jadi fu’ad, af’idah itu orientasi maknanya lebih menggambarkan suasana, rasa yang menyelimuti qalbu tersebut.

Semisal: ayem, kecewa, lego lilo, ganjel, gerundel dan lainnya.

Kabid atau hati berfungsi sebagai filter dan qalbu adalah organ yang bekerja memompa darah untuk didistribusikan ke seluruh tubuh.

Bi-iznillah, khatam ngaji surah al-Humazah. (*)

Penulis:

KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang

Editor : Ainul Hafidz
#opini #Tebuireng #KH Mustain Syafii #hati #Jombang #jantung #al humazah