JombangBanget.id — Mengendalikan emosi merupakan kekuatan sejati dalam kehidupan manusia.
Pesan ini disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Almasruriyah Tebuireng, Gus Variz Muhammad Mirza, saat mengisi kajian usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (17/7).
Dalam ceramahnya, Gus Variz menegaskan kekuatan sejati tidak terletak pada otot atau kemampuan fisik, melainkan pada kendali diri saat emosi memuncak.
Ia mengutip sabda Rasulullah Muhammad SAW, “Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
Emosi berasal dari bagian otak primitif. Tidak bisa dihilangkan, tetapi bisa dikendalikan dan dilatih agar tidak meledak tanpa kendali.
Orang yang tak mampu mengendalikan amarah akan sulit menjadi pemimpin karena pengikut akan menjauh.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS Ali Imron ayat 159, yang menegaskan sikap lemah lembut akan mendatangkan simpati.
Sebaliknya, sikap keras dan berhati kasar hanya akan membuat orang lari menjauh.
Rasulullah juga bersabda, seorang muslim sejati adalah yang membuat muslim lain merasa aman dari lisan dan tangannya.
Gus Variz kemudian menceritakan kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah saat perang.
Ketika berhasil menjatuhkan lawannya dan hendak menghabisinya, sang musuh justru meludahi wajahnya.
Sayyidina Ali lantas mengurungkan niat membunuh. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab, awalnya berperang karena Allah, tetapi setelah diludahi, takut membunuh karena hawa nafsu.
Itulah jihad terbesar dalam hidup seorang mukmin: jihad melawan hawa nafsu.
Umar bin Khattab radiyallahu anhu dikenal memiliki kekuatan fisik luar biasa, bahkan mampu mengangkat kuda hanya dengan satu tangan.
Namun kekuatan itu tak digunakan untuk menindas, melainkan untuk menjaga umat dan membela Islam.
Setelah masuk Islam, kekuatan Umar menjadi tameng dakwah dan perlindungan bagi kaum muslimin.
Pesan serupa datang dari Hasan al-Bashri rahimahullah. Marah ibarat api yang membakar hati. Siapa yang tak memadamkannya dengan air kesabaran, akan terbakar oleh api itu sendiri.
Syekh Abdul Qadir al-Jilani rahimahullah menasihati murid-muridnya, “Jika engkau marah, diamlah. Dalam diam, ada keselamatan bagi hati dan lisan.”
Ceramah ditutup dengan kisah seorang pemuda yang sering marah. Ia datang kepada gurunya dan bertanya bagaimana cara mengatasi kemarahan.
Sang guru memberikan segelas air dan memintanya berjalan di atas papan sempit tanpa menumpahkan air setetes pun.
Setelah selesai, sang guru bertanya bagaimana ia bisa menjaganya tetap utuh.
Pemuda itu menjawab, “Karena saya fokus dan hati-hati.” Gurunya lalu berkata, “Begitu pula hidupmu. Jika kamu sadar sedang membawa amanah, kamu akan fokus dan tidak mudah terpancing emosi.”
Ceramah Gus Variz di Masjid Polres Jombang ini menjadi pengingat penting bahwa kekuatan terbesar seorang manusia tidak terletak pada kekerasan atau keberanian fisik, melainkan pada ketenangan hati dan kemampuan menaklukkan amarah. (jif/naz/riz)
Editor : Ainul Hafidz