Yahsab ann malahu akhladah. Humazah Lumazah itu mengira hartanya kekal dan terus bisa dinikmati.
Bisa dibaca ’’yahsabu’’, huruf Sin dibaca fathah seperti riwayat al-imam Hafsh, artinya mengira, menyangka, dari ’’hasiba-yahsabu’’.
Dan bisa juga dibaca ’’yahsibu’’, dari ’’hasaba-yahsibu’’, artinya menghitung.
Jika diambil makna ’’mengira’’, artinya pandangan itu sebuah asumsi, dugaan atau bahkan semi keyakinan.
Sebuah pemikiran dangkal yang cepat-cepat mengambil kesimpulan. Biasanya, orang awam pola berpikirnya begini ini, sederhana dan cepat.
Tidak sama jika diambil makna menghitung (yahsibu), maka menarik kesimpulan bahwa harta itu sebagai kekal setelah melalui proses perhitungan yang matang dan kalkulasi ilmiah.
Ini, biasanya pola pikir pelaku bisnis kelas atas. Apapun bacaannya, yahsibu atau yahsabu sama saja sebagai perbuatan yang tercela dan perhitungan yang salah.
Risikonya, neraka ’’wail’’, nanti sebagai singgahannya.
Pemeo di antara kita terdengar, ’’harta tak dibawa mati’’ punya bias makna.
Bila yang dimaksud adalah fisik dari harta itu sendiri, seperti uang, mobil, pabrik dan sebangsanya, maka terma di atas benar.
Memang tidak dibawa mati, karena di dalam kubur tidak ada yang jualan bakso atau minuman.
Tapi bila yang dimaksud itu harta sebagai nonfisis, maka makna itu salah dan harus diterjemah ulang. Justru yang benar sebaliknya, bahwa ’’harta itu harus di
bawa mati.’’ Dalam artian, titipkan harta anda tersebut ke agen resminya, agen yang sudah ditunjuk oleh Tuhan.
Ada lembaga sosial, yang kemudian disalurkan ke fakir, miskin. Atau lembaga wakaf, di situ deposito akhirat anda pasti nanti bisa dinikmati.
Anda meraruh uang miliaran dan bahkan triliunan di bank dengan keyakinan aman dan kelak sangat menguntungkan, bakal berbunga dan berbunga secara unlimited.
Sementara anda tidak mau tahu, siapa pemilik bank tersebut, muslim atau bukan, beriman atau tidak.
Sementara Allah SWT, Tuhan yang memberi uang, yang setiap saat anda bersujud dan menyembah kepada-Nya tidak atau kurang anda percaya.
Tidak yakin keamanan uang anda jika anda menaruhnya di sana. Padahal sudah dijelaskan, bahwa bunganya berlipat ganda, bisa seratus kelipatan, jauh melampaui bunga yang dijanjikan oleh Bank manapun di dunia ini.
Dari perspektif ini, yakni lebih percaya bunga bank dunia ketimbang bunga bank akhirat, lalu.. apakah pola keimanan model begini ini bisa disebut sebagai keimanan yang baik.
Masih layak disebut sebagai mukmin yang sungguhan..?
(bersambung, in sya Allah).
Editor : Ainul Hafidz