JombangBanget.id - Pengasuh PP Al Muhsinin, Tugu, Kepatihan, Jombang, Habib Muhammad bin Salim Assegaf, menjelaskan pentingnya zuhud.
’’Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku satu amal yang jika aku melakukannya, Allah akan mencintaiku dan manusia juga mencintaiku,’’ kisahnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Selasa (15/7).
Rasulullah menjawab: Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu.
Zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia akan mencintaimu.
Ini sikap menjauhkan hati dari keterikatan kepada dunia dan dari ketamakan terhadap apa yang dimiliki orang lain.
Menjadikan akhirat sebagai tujuan utama dan tidak terpesona oleh gemerlap dunia, meskipun memiliki harta dan jabatan.
Rasulullah merupakan manusia yang paling zuhud. Beliau pemimpin umat, namun hidupnya sangat sederhana.
Di antara bentuk kezuhudan Nabi: Tidur di atas tikar kasar, hingga berbekas di tubuhnya.
Umar bin Khattab radiyallahu anhu menangis melihat itu dan berkata; ’’Wahai Rasulullah, para raja tidur di atas kasur empuk, sedangkan engkau tidur seperti ini?’’
Nabi menjawab: Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia ini hanyalah seperti seorang musafir yang bernaung di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya.
Allah SWT menawari menjadikan gunung sebagai emas untuk diberikan kepada Nabi, namun Nabi menolak.
Nabi hanya ingin makan sehari dan lapar sehari. Ini agar bisa bersyukur di waktu lapang dan sabar di waktu sempit.
Aisyah radiyallahu ‘anha berkata: Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang dengan roti gandum dua hari berturut-turut sejak beliau diutus hingga wafat.
Suatu ketika usai salat Subuh, Nabi langsung meninggalkan jamaah pergi ke rumah.
Tidak lama kemudian Nabi kembali dan para sahabat bertanya; Nabi kenapa tergesa pergi tidak zikir seperti biasanya?
Nabi menjawab; Teringat di rumah masih ada uang yang belum disedekahkan. Makanya segera pulang untuk menyedekahkannya.
Umar bin Khattab radiyallahu anhu saat menjadi khalifah tetap hidup dalam kesederhanaan.
Ia pernah ditanya mengapa pakaiannya tambalan, ia menjawab: ’’Yang penting adalah hati yang bertakwa, bukan pakaian yang mewah.’’
Hasan Al-Bashri rahimahullah, salah seorang tabi’in, berkata: Zuhud bukanlah dengan mengharamkan yang halal atau membuang harta, tetapi zuhud adalah ketika lebih percaya kepada apa yang di sisi Allah daripada apa yang ada di tanganmu.
Buah dari zuhud, dicintai manusia karena mereka menyukai orang yang tidak tamak dan tidak iri.
Hidup tenang dan bebas dari kecemasan, karena orang zuhud tidak tergantung pada dunia yang fana dan penuh persaingan.
Keselamatan di akhirat, karena zuhud menuntun pada amal saleh yang menjadi bekal di akhirat. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz