Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Kalam Jumat: The Hell (3)

Ainul Hafidz • Jumat, 11 Juli 2025 | 14:37 WIB

Rubrik opini KH Mustain Syafii.
Rubrik opini KH Mustain Syafii.

Al-ladzi jama’a malan wa ‘addadah. Humazah Lumazah adalah orang yang mengumpulkan uang dan menghitungnya.

Di samping ada makna lughawi, makna kebahasaan seperti dijelaskan sebelumnya, mereka mempunyai sifat individual dan tidak punya sifat kebersamaan.

Hal itu dilambangkan dengan cara dia memandang harta, memandang uang, dia sangat aktif dan serius mengumpulkan uang, bahkan selalu menghitungnya.

Pada lafad ’’Jama’a’’ ada dua bacaan: Pertama, berbentuk tsulasi mujarrad. Tiga huruf murni yang artinya ’’mengumpulkan, menghimpun’’.

Dan qiraah kedua, ’’jamma’a’’, bentuk mazid ruba’iy, empat huruf, berpola tadl’if atau tasydid, pendobelan huruf, ikut wazan ’’fa’ala’’ menyesuaikan dengan fi’il berikutnya, yakni: ’’Wa ..’addadah’’.

Dan tentu saja artinya berbeda.

’’Jama’a’’ itu mengumpulkan, pokoknya mengumpulkan, baik secara utuh maupun tidak utuh tanpa ada keterangan aktif dan rutin.

Dia, biasa saja dalam bekerja, meskipun serius, tapi gak nemen-nemen. Ya, tapi tetap tidak mau berbagi dan uangnya selalu dihitung.

Sedangkan ’’jamma’a’’ mengandung makna sangat serius, kerja mengumpulkan uang tersebut dilakukan sedikit demi sedikit, utun, teliti dan selalu dihitung-hitung khawatir ada uang yang luput.

Manusia potongan begini ini pasti medit dan pelit.

Keduanya sama-sama diancam ’’wail’’, kebinasaan oleh surah kaji ini. Hanya saja yang kedua lebih nemen.

Baca Juga: Kalam Jumat: The Hell

Menyikapi manusia potongan begini ini, wong Jowo menyebutnya ’’kedonyan’’.

Secara psikologis, orang begini ini tidak akan bisa memperoleh kebahagiaan sejati, apalagi menikmatinya.

Yang ada dalam pikirannya serba khawatir, kalau-kalau ada yang mengambil uangnya.

Punya pohon mangga, kelengkeng di halaman rumah yang sedang berbuah diblonsongi rapat-rapat, dijaga sambil mecicili setiap anak yang lewat.

Padahal, dulu ada sahabat yang punya pohon berbuah, lalu Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam memberi nasihat.

’’Petani itu pahalanya banyak dan dicintai Tuhan. Setiap buah yang dimakan burung atau yang jatuh dan dinikmati serangga adalah sedekah’’.

Humazah Lumazah itu sukanya berburuk sangka kepada orang lain. Ada pengurus masjid bertamu baik-baik, dicurigai minta sumbangan.

Andai benar meminta sumbangan untuk masjid, toh pahalanya untuk dia sendiri, bukan untuk pengurus.

Mestinya berterima kasih, karena ada orang lain yang secara tulus membantu menyalurkan sedekah. Wong waras, cara berpikirnya harus seperti ini. (*)

Penulis:

KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang

Editor : Ainul Hafidz
#Tebuireng #KH Mustain Syafii #bekerja #Tafsir #Mencari uang #Jombang #Kalam Jumat #uang