Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Gus Zu'em: “Berbisnis” Fitnah

Ainul Hafidz • Senin, 7 Juli 2025 | 22:53 WIB
KH Zaimuddin Wijaya As
KH Zaimuddin Wijaya As

PADA era digital ini, menyebarkan fitnah jauh lebih mudah daripada bikin kopi sachet.

Cukup upload satu potongan video tanpa konteks, atau share gosip dari akun anonim / palsu, maka seseorang bisa langsung kehilangan nama baik, pekerjaan, ketenangan bahkan kehidupannya.

Fitnah sekarang seperti komoditas: dijual, dikemas menarik, dan laris manis karena bikin “heboh.”

Yang lebih mengerikan, fitnah kini dijadikan alat.

Ada yang menggunakannya untuk menjatuhkan lawan bisnis atau politik, ada juga yang menjadikannya konten demi cuan dari views dan iklan.

Maka lahirlah apa yang bisa kita sebut “bisnis fitnah”, praktik jahat yang menguntungkan sebagian kecil orang, tapi menghancurkan reputasi banyak orang bahkan menghancurkan akal sehat masyarakat.

Begitu “buas”-nya fitnah, sampai-sampai para kekasih Allah pun tak lepas dari incarannya.

Karena para nabi juga pernah jadi korban fitnah. Nabi Yusuf difitnah oleh istri pejabat Mesir, lalu dipenjara bertahun-tahun padahal tidak bersalah.

Nabi Muhammad SAW juga diuji, ketika istrinya ( Aisyah ) dituduh berselingkuh.

Fitnah menyebar di masyarakat, tapi akhirnya Allah sendiri yang membela lewat wahyu-Nya.

Dua kisah ini mengajarkan satu hal penting: fitnah itu tak pandang bulu dan menyakitkan, tapi kebenaran akan selalu punya cara untuk menang.

Baca Juga: Gus Zu'em: SACITA (Santri Cinta Almamater)

Tak cuma dalam Islam, budaya Tionghoa juga punya cerita bijak tentang bahayanya fitnah.

Salah satunya adalah kisah Zeng Shen, murid terkenal dari Kong Hu Cu (Konfusius).

Suatu hari, seorang pria datang kepada ibu Zeng Shen dan berkata bahwa anaknya telah membunuh orang.

Si ibu terkejut, tapi tidak langsung percaya. Tak lama kemudian, datang lagi orang kedua membawa kabar serupa. Lalu datang lagi orang ketiga.

Kali ini, si ibu mulai ragu dan lari meninggalkan rumah, takut anaknya benar-benar pembunuh. Padahal Zeng Shen sedang melayani pelanggannya dengan ceria.

Cerita ini dikenal sebagai kisah "Tiga orang membuat harimau".

Yang kisah ringkasnya, ketika satu orang bilang ada harimau di pasar, orang lain tak peduli karena menganggapnya bohong.

Tapi begitu tiga orang yang bilang, sekelompok orang mulai berpikir : “jangan-jangan memang ada harimau”, meskipun binatang itu tak pernah ada.

Itulah fitnah zaman sekarang. Kisah palsu, hoax, kebohongan yang diulang-ulang.

Dilakukan oleh orang tak berpendidikan hingga yang bergelar profesor, lalu dipercaya banyak orang.

Dan saat sudah dipercaya, lebih sulit membersihkan nama daripada membersihkan getah di tubuh. Terlebih pelakunya guru besar, profesor.

Padahal ketika mahasiswa dulu saya berpikir, bahwa seorang profesor itu adalah maqam akademisi tertinggi yang sangat mengutamakan akal sehat.

Sekarang saya sudah merevisi pikiran itu.

Tanpa disadari, pada zaman digital ini, kita sering menjadi bagian dari rantai fitnah yang bertautan. Kita baca judul sensasional, langsung sebar.

Lihat video potongan 15 detik, langsung simpulkan. Padahal bisa jadi itu semua bagian dari skenario mereka yang sedang berdagang aib, berbisnis “bangkai” saudaranya.

Maka sudah saatnya kita berpikir berulang kali. Jangan cepat percaya, apalagi langsung menyebarkan.

Gunakan akal sehat, cek kebenaran, dan jaga lidah serta jari-jari kita. Jangan jadi penyambung lidah dan perawat kebohongan.

Karena kalau hari ini kita ikut-ikutan menyebar fitnah orang lain, bisa jadi besok giliran kita  yang menjadi korbannya.

Dan saat itu, mungkin tak ada lagi orang yang mau dengar penjelasan kita.

Naudzubillah min dzalik. Semoga Allah melindungi kita semua dari segala fitnah. Amiin. (*)

Editor : Ainul Hafidz
#potongan video #opini #profesor #Gus Zuem #politik #fitnah #konten #Jombang #Kolom Gus Zuem #berbisnis