JombangBanget.id - Rois Syuriyah MWCNU Kecamatan Ngoro, Jombang, KH Moh Mahrus, menjelaskan keutamaan bulan Muharram.
’’Muharram termasuk empat bulan mulia,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (2/7).
Sebagaimana disebutkan dalam QS At-Taubah 36.
Empat bulan mulia itu, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Dalam bulan-bulan ini, pahala amal ibadah dilipatgandakan 70 kali lipat. Dosa maksiat juga dilipatgandakan.
Syekh Abdul Qodir Aljilani menyatakan; Puasa tiga hari, Kamis, Jumat dan Sabtu di bulan mulia pahalanya seperti ibadah 900 tahun.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Puasa satu hari di bulan Muharram sama dengan puasa 30 hari di bulan lain.
Di bulan Muharram juga ada hari Asyuro (tanggal 10 Muharram). Puasa hari Asyuro menghapus dosa setahun.
Meluaskan nafkah keluarga pada hari Asyuro membuat rezeki kita diluaskan Allah SWT sepanjang tahun ini.
Menyantuni dan membelai rambut anak yatim pada hari Asyuro membuat Allah SWT mengangkat derajat kita. Untuk tiap helai rambut diangkat satu derajat.
Muharram adalah awal tahun Hijriyah. Ia menjadi waktu yang tepat untuk muhasabah – menilai kembali perjalanan hidup dan ibadah kita.
Baca Juga: Binrohtal: Muhasabah dan Meningkatkan Amal Saleh
Rasulullah bersabda: Orang cerdas menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.
Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: Seorang mukmin senantiasa menghisab dirinya, dan menyadari bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban atas ucapan dan amalnya.
Umar bin Khattab radiyallahu anhu berkata: Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah dirimu sebelum kamu ditimbang.
Sesungguhnya hisabmu di akhirat akan lebih ringan jika engkau telah menghisab dirimu hari ini.
’’Tujuan muhasabah adalah untuk memperbaiki diri agar hidup kita terus semakin baik,’’ terangnya.
Rasulullah bersabda: Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia beruntung.
Barangsiapa yang hari ini sama dengan kemarin, maka ia merugi. Barangsiapa hari ini lebih buruk dari kemarin, maka ia celaka.
Dan barangsiapa yang tidak bertambah (kebaikan), maka ia dalam keadaan berkurang.
Dan siapa yang dalam keadaan berkurang, maka kematian lebih baik baginya.
Diceritakan bahwa khalifah Umar bin Abdul Aziz setiap datang awal tahun, beliau duduk bersama keluarganya dan berkata: Ini adalah tahun baru, jadikan ia ladang amal yang baik.
Karena kalian tidak tahu berapa lama lagi usia kalian tersisa.
Ini menunjukkan betapa para ulama dan pemimpin saleh memanfaatkan momentum Muharram untuk memperbaharui niat, memperbanyak amal, dan memperbaiki diri. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz