TAHUN baru Islam 1447 Hijriah baru saja kita masuki.
Di tengah euforia kalender masehi yang lebih dominan dalam ruang publik, tahun baru Hijriah sering kali luput dari perhatian, bahkan oleh umat Islam sendiri.
Padahal, makna hijrah yang menjadi dasar penanggalan ini sarat pesan peradaban: berpindah dari keterpurukan menuju kejayaan, dari kejumudan menuju kemajuan, dari kegelapan menuju cahaya.
Masa sekarang ini, makna hijrah tidak lagi selalu perpindahan fisik, tetapi lebih banyak bersifat mental dan spiritual.
Kita hidup di zaman di mana informasi berseliweran tanpa filter, opini pribadi kerap dianggap fakta, dan energi umat tersedot oleh hal-hal yang remeh-temeh.
Budaya instan dan respons emosional lebih mendominasi ketimbang refleksi dan pertimbangan akal sehat.
Di media sosial, misalnya, banyak dari kita terjebak menjadi penikmat drama digital.
Saling menyalahkan, memperbesar kekurangan orang lain, atau bahkan menyebarkan hoaks tanpa verifikasi.
Padahal, jika semangat hijrah benar-benar hidup dalam diri kita, seharusnya kita mampu move on dari semua itu: dari ketertarikan pada hal yang dangkal ke upaya mengejar nilai-nilai yang substansial.
Dari pemerhati aib saudara, bertransformasi menjadi pejuang perbaikan diri.
Sebab sejatinya, musuh terbesar bukanlah orang lain yang berbeda pendapat dengan kita, melainkan ego dalam diri yang terbiasa menyangkal kebenaran.
Baca Juga: Gus Zu'em: Radar Jombang, Jadilah Mercusuar Informasi di Era Disrupsi
Tahun 1447 Hijriah adalah momentum yang tepat untuk kembali menyusun ulang prioritas kita sebagai umat.
Sudah saatnya hijrah dari sekadar menjadi konsumen informasi menjadi penalar informasi.
Dari sekadar reaktif menjadi reflektif. Dari ikut-ikutan arus menjadi pribadi merdeka yang berpikir jernih dan berbuat bijak.
Rasulullah SAW bersabda: "Seorang Muslim adalah orang yang mampu menjaga keselamatan saudaranya dari lisan dan tangannya.".
Dalam konteks zaman digital, dawuh ini makin relevan. Lisan kini bukan hanya terucap lewat mulut, tapi juga lewat jari-jari di layar ponsel.
Jika masih mudah menyebarkan kebencian, fitnah, dan kabar burung, maka sejatinya kita belum sepenuhnya berhijrah.
Hijrah adalah proses, bukan slogan.
Ia menuntut konsistensi dan kesungguhan untuk meninggalkan kebiasaan lama yang tak memberi nilai tambah, menuju tindakan yang berdampak baik bagi diri dan lingkungan.
Oleh sebab itu, saya mengimbau para podcaster atau youtuber yang senang mengundang narasumber penyebar kabar fiktif dengan semangat kebencian.
Karena, salah satu ironi yang mencolok dalam kehidupan digital kita adalah menjamurnya kanal YouTube atau media sosial yang menjadikan sumber-sumber penyebar fitnah sebagai tamu rutin.
Tak sedikit yang sengaja menghadirkan narasumber yang gemar menyudutkan tokoh tertentu, memelintir fakta, bahkan menyebar tuduhan serius tanpa dasar.
Semua dilakukan demi mendulang klik, komentar, dan pemasukan dari iklan. Saya tidak tahu, apakah mereka memikirkan keberkahan rezekinya.
Kita sebagai bagian dari masyarakat yang mengedepankan akal dan adab, patut prihatin.
Dan kita juga berhak mengimbau: wahai para YouTuber, para pembuat konten, hijrahlah.
Jangan lagi memberi panggung bagi penyebar fitnah. Jangan menjadi bagian dari mata rantai keburukan yang justru melemahkan kepercayaan sosial dan merusak etika publik.
Mereka bisa menyulut kemarahan kolektif, memecah belah komunitas, bahkan memperkeruh kehidupan demokrasi yang sudah rentan oleh polarisasi.
Ingat, kebebasan berekspresi bukanlah kebebasan tanpa batas. Di dalamnya terdapat tanggung jawab moral, sosial, bahkan spiritual.
Maka, sekali lagi, mari jadikan momentum tahun baru ini untuk hijrah yang sejati, bukan sekadar berpindah tempat.
Tapi memberanikan diri untuk move on menanggalkan hal yang sia-sia dan merendahkan umat menuju sesuatu yang bernilai dan memuliakan.
Suatu keberanian yang ujungnya akan betul-betul mengantar umat Islam menjadi rahmatan lil ‘alamiin. Yakinlah bahwa usaha kita akan sampai. Insya-Allah. (*)
Editor : Ainul Hafidz