Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Cerpen: Tamu Tengah Malam

Ainul Hafidz • Jumat, 20 Juni 2025 | 15:01 WIB
Ilustrasi cerpen tamu tengah malam.
Ilustrasi cerpen tamu tengah malam.

MALAM itu hujan turun deras. Listrik di rumah Pak Roni padam sejak sore, dan ia hanya mengandalkan cahaya dari lampu minyak di ruang tamu.

Di luar, petir menyambar langit, dan suara hujan memukul atap seperti dentuman genderang perang.

Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu depan.

Pak Roni melirik jam tua di dinding—tepat pukul 00.15 WIB. Siapa yang datang tengah malam begini?

Dengan hati-hati, ia membuka pintu. Di ambang, berdiri seorang pria muda, basah kuyup. Wajahnya pucat, mata cekung, dan napasnya terengah-engah.

’’Maaf, Pak… motor saya mogok di depan. Boleh saya numpang berteduh sebentar?’’

Pak Roni ragu, tapi rasa iba mengalahkan kecemasannya. Ia mempersilakan pria itu masuk. Mereka duduk di ruang tamu yang redup, sambil menyesap teh panas.

’’Ada telepon?’’ tanya pria itu.

’’Tidak ada sinyal sejak siang,’’ jawab Pak Roni.

Suasana hening. Pak Roni memperhatikan gerak-gerik pria itu. Ada yang aneh—cara ia menatap ruangan, cara ia menggenggam sesuatu di balik jaketnya.

’’Rumah ini… sudah lama kosong ya, Pak?’’ tanya pria itu tiba-tiba.

Baca Juga: Cerpen: Berbagi dengan Sahabat

Pak Roni mengernyit. ’’Maksudmu? Saya tinggal di sini sejak lima belas tahun lalu.’’

Pria itu tersenyum miring. ’’Kata orang, rumah ini milik seorang duda tua yang tewas karena dirampok… Tepat malam seperti ini.’’

Pak Roni terdiam. Suasana mendadak dingin.

’’Aku cuma ingin lihat langsung,’’ lanjut pria itu pelan. Ia mengeluarkan selembar foto tua—gambar rumah ini, tapi lebih usang.

Pria itu berdiri, menatap sekeliling.

’’Ayahku… yang dibunuh di sini.’’

Pak Roni berdiri kaku. ’’Kau bilang… Ayahmu?’’

Pria itu mengangguk. ’’Namanya Roni. Dan kau… Bukan dia.’’

Seketika lampu minyak padam tertiup angin. Saat cahaya kembali, pria itu sudah menghilang.

Pak Roni menggigil. Ia berlari ke kamar, membuka laci—mengambil cermin kecil. Wajahnya… kosong. Tak ada bayangan.

Ia terdiam. Dinding di belakangnya perlahan menghitam, menyerap cahaya.

Karena kini, ia ingat: Rumah ini memang kosong.

Baca Juga: Student Journalism: Proyek Cerpen

Dan dirinya… Sudah mati lima belas tahun lalu.

Penulis:

Aulia Arfan Daffa

Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah

Editor : Ainul Hafidz
#cerpen #Mahasiswa #tulungagung #UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung #Jombang #Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah