Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Tanaman Mati Diterjang Banjir, Petani Tembakau di Desa Ini Sudah Empat Kali Tanam Ulang

Ainul Hafidz • Rabu, 18 Juni 2025 | 01:11 WIB
TANAM LAGI: Petani di Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso, Jombang menanam tembakau.
TANAM LAGI: Petani di Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso, Jombang menanam tembakau.

JombangBanget.id – Cuaca ekstrem menjadi pukulan telak bagi petani di wilayah utara Sungai Brantas.

Pasalnya, berkali-kali tanaman tembakau petani selalu mati lantaran terendam banjir.

Meski biaya operasional membengkak, petani tak menyerah, dan tetap melanjutkan tanam tembakau.

Seperti yang dialami Laminah, petani tembakau di Dusun Mojoyanti, Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso, Jombang.

Menurutnya,  musim tanam kali ini selain mundur juga menguras biaya operasional. Sebab, dia sudah empat kali tanam tembakau.

”Di sini rata-rata sudah empat kali tanam, terakhir kena banjir minggu lalu,” kata Laminah usai menanam tembakau, Senin (16/6).

Meski masih waswas ancaman hujan, petani tetap memilih untuk menanam tembakau.

”Biarpun hujan tetap (tanam) tembakau. Kalau normal harusnya Juni ini sudah persiapan panen, sekarang baru tanam,” imbuh dia.

Karena sudah empat kali tanam membuat biaya operasional tahun ini membengkak.

”Sudah nggak kehitung habis berapa, ini baru saja beli 6.000 bibit. Harganya sekarang Rp 50 ribu per 1.000 bibitnya, belum buruh tanamnya,” ujar Laminah.

Hal serupa juga diungkapkan M Hadi, petani lainnya. Bedanya dia baru saja memulai tanam.

Baca Juga: Tanaman Tembakau Mati Terendam Banjir, Begini Kata Disperta Jombang

”Milik saya baru mulai tanam, jadi belum sampai tanam ulang seperti yang lain,” sambung Hadi.

Tanam tembakau seperti menjadi budaya di utara Sungai Brantas. Sebab, meski saat ini hujan masih turun, petani tak mau beralih ke tanaman yang lain.

”Walaupun nanti kena banjir ya tanam lagi,” tutur Hadi.

Banjir besar yang terjadi Senin (9/6) lalu, menjadi pukulan telak bagi petani tembakau di wilayah utara Sungai Brantas.

Dari hasil pendataan yang dilakukan Dinas Pertanian (Disperta) Jombang, luas tanaman tembakau yang terendam banjir mencapai ribuan hektare.

Petani merugi besar akibat tanaman tembakau layu dan membusuk.

Sebagian tanaman tembakau yang sudah berumur sebulan lebih tetap dipanen dengan mencabut seluruh batangnya karena sudah tidak mungkin berkembang.

”Data sementara, tanaman tembakau yang terendam banjir mencapai 1.145 hektare,” terang Kepala Disperta Jombang M Rony melalui Kepala Bidang Perlindungan pasca Panen, dan Pemasaran Tanaman Pangan, Perkebunan dan Holtikultura Akhmad Jani Masyhudi dikonfirmasi, Rabu (11/6).

Ribuan hektare tanaman tembakau yang terdampak banjir tersebar di seluruh wilayah kecamatan di utara Sungai Brantas.

”Mulai Plandaan, Ngusikan, Kabuh, Ploso, Ngusikan, dan Kudu,” ungkapnya.

Kendati demikian, dia belum bisa memastikan berapa luas tanaman tembakau yang rusak ataupun mati akibat banjir.

”Jadi, upaya kami sejak sebelum tanam sudah menghadirkan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatolologi, dan Geofisika) untuk memprediksi cuaca, petani sudah diingatkan tahun ini kemarau basah. Tentunya pilihan budi daya ini sepenuhnya pilihan mereka (petani), kami tidak memaksa,” tutur dia.

Terlebih petani tembakau di utara Brantas selama ini dikenal militan.

”Kasarannya, mati urip tandur mbako (mati hidup tanam tembakau). Alternatifnya masih bisa ditanami padi. Tapi karena sudah menjadi budaya, sehingga sekarang masih tetap tanam tembakau,” kata Jani.

Sementara itu, banjir menjadi pukulan telak bagi Budanto Setiawan, 42, petani tembakau di Dusun Mabul, Desa Sidokaton, Kecamatan Kudu.

Ia mengaku sudah menderita kerugian hingga puluhan juta rupiah lantaran sudah empat kali tanam, tembakaunya rusak terendam banjir.

”Saya sudah 4 kali menanam, sebelumnya juga gagal terus kena hujan,” terangnya.

Ia mengaku sudah mengeluarkan biaya besar untuk empat kali tanam tembakau di lahan seluas 1,5 hektare.

”Kerugian sekitar Rp 30 juta-a. Perawatan tembakau lebih mahal karena musim hujan,” tambahnya.

Terakhir, tanaman tembakaunya yang masih berumur sekitar 1,5 bulan juga rusak tergenang banjir pada Senin (9/6).

Ia terpaksa mencabuti seluruh tanaman tembakau lantaran kondisinya rusak dan tidak mungkin bisa berkembang lagi. Kondisi tanaman layu dan mulai membusuk.

”Iya, ini belum waktunya panen, tapi dipanen dini agar tidak makin rugi,” terangnya saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang di sawah, Rabu (11/6). (fid/naz)

 

Editor : Ainul Hafidz
#Pemkab Jombang #petani tembakau #Tembakau #Dinas Pertanian Jombang #banjir #Jatibanjar #tanaman mati #Jombang #disperta jombang #Ploso #Petani