SANGAT menarik, pidato Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) dalam acara Dies Natalis ke-60 UNNES (9/6).
Dengan gamblang dan runtut, Prof. Abdul Mu’thi menggambarkan realitas kehidupan sosial di masyarakat yang kian memprihatinkan akibat kemajuan teknologi informasi.
Padahal teknologi itu digadang-gadang bisa meningkatkan kualitas hidup dan intelektualitas manusia.
Dengan santai, beliau mendiskripsikan kehidupan kita saat ini, mengacu pada buku berjudul World Without Mind karya Franklin Foer (2017).
Sehingga isi buku yang bernuansa protes keras tersebut, tersampaikan secara moderat.
Berikut ini nada-nada protes yang saya peroleh dari resume dan synopsis buku tersebut untuk pembaca setia kolom ini.
Sebagai seorang jurnalis dan penulis Amerika populer, Foer (50) yang akrab dengan raksasa teknologi informatika di AS memiliki kegelisahan luar biasa.
Dia merasakan di era informasi yang serbacepat dan mudah inilah masa ketika akal manusia mendapat ujian berat.
Di balik kemudahan teknologi dan konektivitas global, terselip bahaya tersembunyi : manusia kehilangan kemerdekaan berpikirnya.
Dia terang-terangan dalam bukunya menyebut dominasi raksasa teknologi seperti Google, Facebook, dan Amazon sebagai ancaman eksistensial terhadap kebebasan berpikir.
Perusahaan-perusahaan ini tak hanya menyediakan teknologi yang mempermudah hidup, tetapi juga menciptakan sistem informasi yang mengarahkan cara kita bagaimana memahami dunia.
Baca Juga: Gus Zu'em: Polemik Sebutan Jombang, Perlukah?
Melalui algoritma, informasi yang kita terima dipersonalisasi berdasarkan perilaku digital kita, bukan pada kebutuhan objektif akan kebenaran.
Sekali kita mencari info tentang sepatu, maka besok ketika buka medsos akan lewat di beranda kita aneka merek sepatu global sesuai “kemauan” mereka.
Tak kan lewat sepatu merek “Topik” Jombang.
Mesin pencari, media sosial, dan platform e-commerce kini menjadi penentu realitas yang kita lihat.
Hasilnya adalah ruang gema atas suara yang tunggal, di mana ide-ide berbeda sulit masuk.
Dan pengguna hanya dihadapkan pada konten yang mengukuhkan kebenarannya sendiri.
Karena konten yang beda dengan selera pengguna, tak dimunculkan di berandanya.
Kondisi ini mendorong matinya daya kritis secara perlahan.
Akal tak lagi diasah untuk mencerna, mempertimbangkan, atau membantah. Ia cukup menerima, menyukai, lalu membagikan.
Dalam masyarakat yang akalnya tidak dilatih, maka keputusan-keputusan besar - baik politik, sosial, maupun moral - mudah dipengaruhi oleh emosi, sensasi, dan narasi palsu dari media yang viral.
Lebih jauh, privasi sebagai fondasi kebebasan individu ikut terkikis.
Setiap klik, pencarian, dan reaksi kita menjadi data yang dijual untuk iklan atau dimanfaatkan untuk membentuk perilaku. Kita merasa memilih, padahal kita diarahkan.
Kita merasa bebas, padahal kita sedang dijinakkan oleh desain sistem yang sangat terstruktur.
Teknologi informasi seharusnya memperluas cakrawala berpikir manusia. Namun jika tanpa kendali, justru menjadi alat pengendali.
Pengetahuan berubah menjadi komoditas cepat saji. Tulisan-tulisan viral sering kali lebih didorong oleh emosi dramatis daripada isi.
Konten yang penuh nuansa kajian dan refleksi kehidupan, tenggelam dalam derasnya arus informasi instan.
Ceramah panjang dipotong-potong jadi per satu-dua menitan, sesuai selera dan kepentingan pengguna, sehingga kehilangan konteks.
Maka hanya orang-orang spesial (khos) seperti Anda yang senang membaca tulisan panjang di kolom ini.
Oleh karena itu, agar realitas di atas dapat diminimalisasi dampaknya dalam kehidupan sosial masyarakat, alangkah baiknya bila kita melakukan beberapa langkah sebagai berikut :
Pertama, menjadikan literasi digital sebagai prioritas dalam pendidikan.
Masyarakat perlu diajarkan bukan hanya cara menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana memilah informasi, mengevaluasi sumber, dan berpikir secara rasional.
Kedua, regulasi terhadap perusahaan teknologi harus ditegakkan. Negara tak boleh abai saat kebebasan berpikir warganya mulai dikendalikan oleh entitas bisnis global.
Ketiga, budaya membaca dan berpikir mendalam harus dipulihkan. Kita perlu ruang jeda untuk merenung, tidak terus-menerus diganggu notifikasi.
Dunia tanpa akal bukan sekadar imajinasi, karena ia sedang “dibangun” secara sistematis.
Kita tak sedang hidup di zaman kejahilan, tetapi di zaman ketersediaan informasi yang berlimpah namun dangkal.
Jika kita tidak mengambil sikap, maka bukan teknologi yang akan menjadi alat bantu manusia, tetapi manusialah yang akan menjadi alat bantu teknologi.
Dalam dunia seperti itu, kebebasan hanya akan tinggal ilusi, dan akal sehat hanyalah kenangan. Naudzubillah min dzalika. Salam sehat penuh rahmat. (*)
Editor : Ainul Hafidz