DI sudut dunia yang sunyi dan terlupakan, hiduplah seekor gagak bernama Suwandi.
Dengan bulu hitam kusam dan suara serak, ia menjalani hari-harinya hanya untuk mencari secuil makanan agar tak kelaparan esok hari.
Suatu pagi, saat terbang melintasi danau kecil tersembunyi, Suwandi melihat sekumpulan angsa putih bermain di air jernih.
Di antara mereka, ada satu angsa dengan bulu seputih kapas dan mata lembut bernama Faza.
Suwandi terpesona dan mendekat dengan alasan mencari makanan, tapi hatinya ingin mengenal Faza lebih jauh.
Faza menyapanya dengan lembut, "Hai, gagak. Apa kau mencari sesuatu di sini?"
Suwandi menjawab, "Aku mencari makanan... tapi kurasa aku menemukan lebih dari itu."
Mereka berbicara tentang angin, langit, dan kesepian, menjalin jembatan di antara dua dunia yang berbeda.
Namun, Faza harus pergi bersama kawanan angsanya. Sebelum berpisah, Suwandi bertanya nama Faza, dan mereka saling mengenal.
Hari-hari berlalu, Suwandi terus kembali ke danau, bahkan mengikuti Faza dari jauh.
Faza yang cerdas tahu ada yang mengikutinya dan akhirnya mendekati Suwandi. Dengan keberanian, Suwandi mengaku, "Aku mencintaimu, Faza."
Faza terdiam sejenak, lalu berkata lirih, "Aku juga merasakan hal yang sama, tapi kita berbeda. Aku angsa, kau gagak. Dunia kita tak akan merestui, dan aku sudah punya pasangan."
Kata-kata itu menghancurkan hati Suwandi. Ia pulang dengan luka yang dalam, menahan sesak di dada. Namun hidup memberi harapan.
Dalam perjalanan pulang, Suwandi bertemu gagak betina bernama Lala. Ia tak secantik Faza, tapi penuh pengertian dan mendengarkan tanpa menghakimi.
Suwandi menceritakan segalanya, dan Lala tersenyum, "Kadang cinta bukan soal siapa yang paling indah, tapi siapa yang tetap tinggal."
Hari demi hari, Suwandi dan Lala saling mengisi. Mereka tak sempurna, tapi saling mengerti dan mencintai karena kesamaan luka dan harapan.
Sementara itu, Faza menjalani hidupnya bersama pasangan, sesekali teringat Suwandi dengan senyum kecil, mengenang cinta yang tak bersatu tapi tulus.
Cerita ini mengajarkan kita bahwa tidak semua cinta harus memiliki akhir yang sempurna.
Kadang, yang paling kita butuhkan adalah seseorang yang tetap di samping kita dan berkata, "Aku di sini."
Seperti Suwandi dan Lala, cinta sejati adalah menemukan damai dalam perbedaan, bukan menyatukan dua dunia yang berbeda.
Penulis:
Oktavio, Taufik, Fajrin, Ely
Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah
Editor : Ainul Hafidz