JombangBanget.id – Hingga saat ini, Dinas Pertanian (Disperta) Jombang belum mendapat laporan terkait pembayaran kompensasi dari PT Pokphand untuk petani Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh.
Menyusul tanaman jagung petani rusak terserang hama tikus yang bersarang di areal pabrik.
Kepala Disperta Jombang M Rony mengatakan, sebelumnya sudah menggelar pertemuan terkait protes petani di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Senin (8/6) lalu.
Dalam pertemuan itu juga dihadiri pihak pabrik. Namun demikian, ia mengaku belum mendapat laporan perihal kompensasi.
”Kami belum mendapatkan laporan terkait itu. Bisa ditanyakan ke kepala desa. Karena pertemuan juga melibatkan semua pihak,” ungkapnya.
Rony menambahkan, sebelumnya memang pihak pabrik berencana akan memberikan kompensasi berupa benih, untuk mengganti tanaman jagung petani yang rusak.
”Dulu informasinya diajukan ke pabrik pusat. Ini kami tidak tahu pusatnya di mana, Jakarta atau Surabaya,” imbuhnya.
Salah satu hail dari pertemuan itu sudah ditindaklanjuti dengan melakukan gropyokan masal. Kegiatan itu juga dilakukan bersama dengan pihak pabrik.
”Gropyokan juga dilakukan di lingkungan pabrik,” katanya.
Pihak pabrik juga sudah komitmen untuk bekerja sama dengan petani, apabila ada kegiatan pembasmian hama tikus yang menyerang di sawah mereka.
”Jadi nanti akan dilakukan bersama-sama dengan pihak pabrik,” katanya.
Sementara dikonfirmasi melalui telepon selularnya, Kepala Desa Balongsari Arifin belum bisa memberikan keterangan.
Meski terdengar nada sambung belum ada jawaban. Begitu pula melalui pesan singkat belum ada balasan.
Seperti diberitakan sebelumnya, belasan petani jagung mendatangi kantor Desa Balongsari, Senin (2/6) siang.
Mereka mengeluhkan tanaman jagung mereka rusak akibat serangan tikus yang diyakini berkaitan dengan aktivitas pabrik PT Pokphand Jombang di wilayanya.
Para petani menuntut pihak pabrik memberikan kompensasi.
Suwoto, 54, salah satu perwakilan petani mengatakan, serangan hama tikus begitu masif menyerang tanaman jagung di wilayahnya.
Serangan hama tikus ditengarai terkait dengan aktivitas PT Pokphand.
”Kalau Pokphand bongkar ayam, tikus keluar semua dari pabrik. Sebelumnya tidak pernah seperti ini. Sekarang, sawah kami habis diserbu,” ujar Suwoto.
Jumlah tikus sangat banyak dan sulit dikendalikan. Tingkat serangannya pun masif.
”Dalam semalam, satu bidang sawah seluas 1.500 meter persegi bisa ludes diserang hama tikus,” ungkapnya.
Senada, Ketua Poktan Kedungsari Senada, Saiful Fatoni juga membenarkan serangan hama tikus yang menyerang tanaman jagung petani di sekitar pabrik.
Kondisi seperti ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Namun kali ini serangannya semakin parah.
”Sudah enam tahun selalu begini setiap tahunnya, sebulan terakhir Pokphand mengambili ayam afkir itu parahnya,” ungkapnya.
Saiful menyebut, setiap malam ribuan ekor tikus keluar dari areal pabrik menuju sawah lantaran kehabisan pakan di dalam pabrik, yakni sisa-sisa pakan ayam.
Dampaknya, tanaman jagung petani jadi sasaran.
”Jagung umur 50 hari itu kalau sudah ada buahnya ya diserang buahnya, kalau yang belum ya dipatahin batangnya,” ungkapnya.
Dari penghitungan awal, setidaknya lahan jagung seluas 5 hektare sudah rusak alias gagal panen. Petani harus merogoh kocek lebih dalam untuk tanam ulang.
”Yang sudah terdampak hitungan terakhir itu sekitar 5 hektare, kalau yang masih berpeluang diserang ada sampai 20 hektare,” bebernya.
Petani berharap pihak perusahaan harus bisa memberikan kompensasi atau ganti rugi kepada petani terdampak.
”Akhirnya kemarin demo ke balai desa itu, kami ya tentu mengharap ada ganti rugi,” pungkasnya.
Menanggapi keluhan tersebut, PT Pokphand Jombang, melalui Wibowo Eko selaku PJA Area, menyatakan bahwa perusahaan telah berupaya melakukan penanganan maksimal, termasuk pencegahan dan pembasmian hama.
”Dari Pokphand sudah melakukan penanganan. Untuk pencegahan dan pembasmian, kami lakukan semaksimal mungkin. Tetapi karena ini tikus, kita tidak tahu pasti alur keluar-masuknya dari pabrik,” ujar Wibowo saat dikonfirmasi usai musyawarah di Balai Desa Balongsari.
Pihak perusahaan juga akan memastikan tikus tidak keluar dari area peternakan dan menyatakan kesiapannya untuk menanggapi tuntutan warga.
”Kami akan realisasikan perbaikan pagar dalam bulan ini. Untuk penanganan tikus, ke depan akan kami maksimalkan enam bulan sebelumnya. Kami juga sedang melakukan pendataan lahan terdampak untuk proses kompensasi,” jelasnya. (riz/naz)
Editor : Ainul Hafidz