Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Mengikuti Jejak Nabi Ibrahim AS

Ainul Hafidz • Jumat, 13 Juni 2025 | 14:06 WIB
Abdul Rozaaq Muttaqiin SPd, pengasuh Pondok Pesantren ’Aisyiyah - PPTQA Sabilul Falah, Dusun Kapas, Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, Jombang.
Abdul Rozaaq Muttaqiin SPd, pengasuh Pondok Pesantren ’Aisyiyah - PPTQA Sabilul Falah, Dusun Kapas, Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, Jombang.

BULAN Dzulhijjah adalah salah satu bulan mulia, momen ketika pahala amal kita dilipat gandakan (At-Taubah 36, Tafsir Ibnu Katsir).

Mengingat bulan ini selalu membuat kita ingat pula dengan satu figur nabi yang menjadi rujukan dan kebanggaan umat muslim, bahkan juga Yahudi dan Nasrani (Ali ‘Imran 67).

Beliaulah Nabi Ibrahim, yang ujian kepatuhannya kepada Allah serta  amaliahnya masih banyak dikenang dan diteladani, terutama di bulan Dzulhijjah.

Tentu sangat banyak pahala yang didapatkan oleh Nabi Ibrahim, karena amal-amal beliau masih diteruskan hingga sekarang.

Mengapa beliau begitu bersemangat dalam beramal? Tentu karena beliau tahu dan yakin bahwa balasan yang Allah SWT berikan selalu sejenis dengan amalan yang dilakukan, dan nilainya lebih besar.

Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi: ”Apabila seorang hamba mendekat kepadaku sejengkal, aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Apabila dia mendekat kepadaku satu hasta, aku akan mendekat kepadanya satu depa. Apabila dia mendekat kepadaku dengan berjalan, aku akan mendekat kepadanya dengan berlari (Muttafaqun ‘Alaih).”

Artinya, balasan Allah selalu lebih dari usaha yang kita lakukan. Semakin banyak yang kita lakukan, maka semakin banyak juga balasan dari Allah.

Namun demikian, kita harus selalu ingat bahwa bukan amalan yang menjadi sebab kita masuk jannah kelak.

Rasulullah bersabda, ’’Amalan kalian tidak dapat memasukkan kalian ke dalam jannah.’’

Para sahabat penasaran, ’Tidak pula engkau, wahai Rasulullah ?’ tanya mereka.

”Tidak pula aku. Hanya saja Allah menganugerahiku dengan belas kasih dan keutamaan dari-Nya.” (HR. Muslim).

Baca Juga: Binrohtal, Ini Empat Sifat Nabi Muhammad yang Perlu Kita Teladani

Jadi, rahmat (belas kasih) Allah-lah penyebab kita bisa masuk jannah kelak. Rahmat itu diberikan ketika Allah menerima dan melihat keikhlasan dalam diri kita.

Nabi Ibrahim tentu mengetahui hal itu. Bahwa yang dihitung oleh Allah bukan seberapa banyak daging hewan qurban yang kita sembelih.

Bukan pula seberapa mahal harganya. Namun hanya takwa-lah yang menjadi ukuran amal ibadah kita (Al-Haj 37).

Takwa adalah perkara hati, yang menentukan amal ibadah diterima atau justru jadi tiada arti.

Karena itu beliau tidak berbangga setelah menuntaskan pembangunan kembali dinding Kakbah.

Beliau dan putranya justru memohon kepada Allah agar amal yang baru selesai beliau lakukan itu diterima oleh Allah (Al-Baqarah 127).

Marilah kita senantiasa berharap pahala yang sebanyak-banyaknya dari amal ibadah yang kita kerjakan.

Dan mari kita berusaha dan berdoa supaya Allah berkenan menerima amal ibadah kita, sehingga Dia mengategorikan kita sebagai orang-orang yang layak mendapatkan rahmat-Nya kelak di akhirat.

Penulis:

Abdul Rozaaq Muttaqiin SPd

Pengasuh Pondok Pesantren ’Aisyiyah - PPTQA Sabilul Falah, Dusun Kapas, Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, Jombang

 

Editor : Ainul Hafidz
#Pondok Pesantren #jejak #nabi ibrahim #nabi #Jumat #kolom #Jombang #aisyiyah #muhammadiyah