JombangBanget.id – Banjir besar yang terjadi Senin (9/6) lalu, menjadi pukulan telak bagi petani tembakau di wilayah utara Sungai Brantas.
Dari hasil pendataan yang dilakukan Dinas Pertanian (Disperta) Jombang, luas tanaman tembakau yang terendam banjir mencapai ribuan hektare.
Petani merugi besar akibat tanaman tembakau layu dan membusuk.
Sebagian tanaman tembakau yang sudah berumur sebulan lebih tetap dipanen dengan mencabut seluruh batangnya karena sudah tidak mungkin berkembang.
”Data sementara, tanaman tembakau yang terendam banjir mencapai 1.145 hektare,” terang Kepala Disperta Jombang M Rony melalui Kepala Bidang Perlindungan pasca Panen, dan Pemasaran Tanaman Pangan, Perkebunan dan Holtikultura Akhmad Jani Masyhudi dikonfirmasi, Rabu (11/6).
Ribuan hektare tanaman tembakau yang terdampak banjir tersebar di seluruh wilayah kecamatan di utara Sungai Brantas.
”Mulai Plandaan, Ngusikan, Kabuh, Ploso, Ngusikan, dan Kudu,” ungkapnya.
Kendati demikian, dia belum bisa memastikan berapa luas tanaman tembakau yang rusak ataupun mati akibat banjir.
”Jadi, upaya kami sejak sebelum tanam sudah menghadirkan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatolologi, dan Geofisika) untuk memprediksi cuaca, petani sudah diingatkan tahun ini kemarau basah. Tentunya pilihan budi daya ini sepenuhnya pilihan mereka (petani), kami tidak memaksa,” tutur dia.
Terlebih petani tembakau di utara Brantas selama ini dikenal militan.
”Kasarannya, mati urip tandur mbako (mati hidup tanam tembakau). Alternatifnya masih bisa ditanami padi. Tapi karena sudah menjadi budaya, sehingga sekarang masih tetap tanam tembakau,” kata Jani.
Baca Juga: Banjir Rendam Wilayah Utara Brantas, Jadi Pukulan Telak bagi Petani Tembakau
Sementara itu, banjir menjadi pukulan telak bagi Budanto Setiawan, 42, petani tembakau di Dusun Mabul, Desa Sidokaton, Kecamatan Kudu, Jombang.
Ia mengaku sudah menderita kerugian hingga puluhan juta rupiah lantaran sudah empat kali tanam, tembakaunya rusak terendam banjir.
”Saya sudah 4 kali kali menanam, sebelumnya juga gagal terus kena hujan,” terangnya.
Ia mengaku sudah mengeluarkan biaya besar untuk empat kali tanam tembakau di lahan seluas 1,5 hektare.
”Kerugian sekitar Rp 30 juta-an. Perawatan tembakau lebih mahal karena musim hujan,” tambahnya.
Terakhir, tanaman tembakaunya yang masih berumur sekitar 1,5 bulan juga rusak tergenang banjir pada Senin (9/6).
Ia terpaksa mencabuti seluruh tanaman tembakau lantaran kondisinya rusak dan tidak mungkin bisa berkembang lagi. Kondisi tanaman layu dan mulai membusuk.
”Iya, ini belum waktunya panen, tapi dipanen dini agar tidak makin rugi,” terangnya saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang di sawah, Rabu (11/6).
Jika normal, tanaman tembakau seluas 1,5 haktare rata-rata menghasilkan panen hingga mencapai 10 ton.
”Ini bisa dapat 1 ton saja sudah bagus, kualitasnya juga tidak maksimal karena belum waktunya dipanen, mungkin dibuat tembakau hitam, bisa dicampur dengan tetes,” lontarnya.
Tidak hanya dirinya, seluruh tanaman tembakau milik petani di wilayahnya juga terdampak banjir. Luasannya ditaksir mencapai puluhan hektare.
”Ada yang sempat panen dini seperti saya, tapi ada juga yang baru berusia beberapa minggu, tapi semuanya mati,” imbuhnya. (fid/riz/naz)
Editor : Ainul Hafidz