JombangBanget.id - Dinas Pertanian (Disperta) Jombang belum bisa memastikan luasan tanaman tembakau yang mati terdampak banjir.
Hanya saja, dari laporan terakhir yang diterima dinas, dari target 6.100 hektare luas tanam tembakau tahun ini, baru sekitar 25 persen petani yang sudah memulai tanam atau seluas 1.525 hektare.
Paling banyak di Kecamatan Kabuh.
”Kemarin yang sudah laporan itu di Kecamatan Kabuh, ini teman-teman masih menginput data,” kata Kepala Disperta Jombang Moch Rony saat dikonfirmasi, Selasa (10/6).
Dijelaskan, tahun ini pemkab menargetkan luas tanam tembakau seluas 6.100 hektare.
Menyebar di lima wilayah kecamatan. Mulai dari Kecamatan Kabuh, Plandaan, Ploso, Kudu hingga Kecamatan Ngusikan.
”Kurang lebih 25 persen itu sudah tanam. Jadi, masih banyak yang belum mulai (tanam), terutama daerah sawah. Kecuali daerah perengan atau lereng itu sudah tanam (tembakau). Artinya, untuk sementara ini seluas 1.525 hektare sudah ditanami tembakau,” imbuhnya.
Perjalanannya, banjir menerjang lahan pertanian di wilayah utara Sungai Brantas.
”Yang tergenang berapa (hektare), mohon waktu, karena masih didata. Tetapi, ketika air bisa cepat surut atau peres insya Allah masih bisa terselamatkan, ketika lebih dari satu hari atau dua hari (terendam banjir) potensi untuk mati masih tinggi. Karena umumnya masih belum satu bulan,” ujar Rony.
Sementara di wilayah selatan Brantas disebutnya masih aman. Meski terendam banjir, tetapi dengan waktu yang tidak terlalu lama. Satu hari langsung surut.
"Kondisi tanaman mayoritas padi sudah lebih dari satu bulan,” imbuhnya.
Baca Juga: Cuaca Tak Menentu, Petani Tembakau di Jombang Gunakan Metode Ini agar Bibit Tak Gampang Mati
Tetapi, ada juga sebagian tanam jagung, seperti di Kecamatan Jogoroto juga terendam.
”Drainasenya relatif lebih bagus, sehingga genangan tidak terlalu lama,” tutur dia.
Kendati demikian, hujan dengan intensitas tinggi diikuti sungai tak bisa menampung air hingga meluber ke lahan pertanian masih mengintai.
”Mudah-mudahan satu atau dua hari ke depan tidak hujan deras lagi, karena risiko juga tinggi,” kata Rony. (fid/naz)
Editor : Ainul Hafidz