DALAM perjalanan hidup seorang santri yang kemudian diberi amanah menjadi salah seorang pembimbing di pesantren, ada satu fase penting yang tak mungkin saya lupakan: masa-masa menuntut ilmu di Universitas Gadjah Mada, tepatnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Di pinggiran Jogja yang sederhana namun berkharisma.
Saya menimba ilmu, mengenal arti tanggung jawab akademik.
Sekaligus merasakan bagaimana nilai-nilai pesantren bisa hidup berdampingan dengan semangat ilmiah kampus nasionalis.
Sebagai alumni FISIPOL UGM yang kini mengabdi di pesantren, saya merasa perlu menyampaikan satu hal yang mungkin sederhana namun mendesak: “betapa pentingnya menjaga kehormatan almamater”.
Hal itu, berawal dari kegelisahan saya saat ini, akibat adanya beberapa alumni yang justru mencibir, menghina, bahkan menyudutkan tempat mereka dulu belajar.
Kritik boleh, bahkan perlu, karena kritik adalah bagian dari tradisi keilmuan.
Tapi manakala kritik berubah menjadi cacian, tuduhan asumtif, atau bentuk pengingkaran terhadap jasa almamaternya, di situlah kita perlu kembali merenung: “di mana letak adab kita sebagai penuntut ilmu.?”
Bila yang merendahkan almamater saya itu, bukan mahasiswa atau alumni UGM, masih bisa saya maklumi, karena mereka tidak pernah merasakan keberhasilan bersaing dengan puluhan ribu pendaftar untuk menjadi mahasiswa bulaksumur.
Dan tentu tidak pernah juga merasakan lelahnya berproses akademis di kampus kerakyatan tersebut.
Namun, ketika yang melakukan penghinaan itu orang-orang yang mengaku alumni, saya jadi berpikir, seberapa dahsyat kebencian mereka pada orang yang diserang tersebut, sehingga dengan ringannya tega meludahi almamater sendiri.
Baca Juga: Gus Zu'em: Mengikis Keangkuhan Intelektual
Padahal orang yang dibenci itu pada tahun 2017 menerima kartu KAGAMA dari Ganjar Pranowo, ketua umumnya.
Ingat, lembaga tempat kita sekolah atau kuliah disebut “almamater”.
Berasal dari bahasa Latin, yang berarti “ibu asuh”.
Menggambarkan betapa kuat dorongan tradisi intelektualitas kita agar setiap alumni menghormati dan menjaga nama baik kampusnya.
Maka, setelah mencermati perilaku para penyerang almamater itu, saya berani memastikan bahwa mereka tak pernah mendengar dawuh KH. Hasyim Asy’ari yang sangat menekankan pentingnya adab sebelum ilmu.
Pesan beliau : “Ilmu itu tidak akan bermanfaat tanpa adab. Dan keberkahan ilmu bergantung pada seberapa besar kita menghormati guru dan tempat belajar (almamater).”
Dalam konteks saat ini, menghormati almamater adalah bagian dari adab kepada ilmu.
Almamater adalah tempat di mana kita dituntun dari gelapnya ketidaktahuan menuju cahaya pemahaman.
Maka menjaga nama baiknya bukan sekadar refleksi etika sosial, tetapi juga wujud rasa syukur dan penghormatan terhadap ilmu itu sendiri.
Oleh karena itu, dengan kegaduhan yang begitu brutal menyasar UGM berupa fitnah bertubi-tubi di medsos, justeru makin meneguhkan rasa cinta ini padanya.
Sebab, cinta sejati melahirkan keteguhan yang menumbuhkan rasa syukur dan tanggung jawab.
Saya bersyukur pernah belajar di kampus yang mengajarkan “unggah-ungguh” berkeilmuan.
Dan saya merasa bertanggung jawab untuk terus menyuburkan nilai-nilai itu dalam dunia pendidikan yang menjunjung tinggi akhlakul karimah : komunitas kampus pesantren.
Maka, pesan saya kepada para pembaca kolom ini terkasih : “Di mana pun Anda pernah menuntut ilmu, mari kita jaga nama baik almamater, dengan akhlak, karya, dan kontribusi. Agar ilmu kita makin berkah”.
Sebab keberkahan ilmu itu lebih berharga daripada sekedar gelar akademis, meski setinggi langit dan berderet.
Wallahhu-a’lam bishshawab. (*)
Editor : Ainul Hafidz