JombangBanget.id – Cuaca ekstrem membuat petani tembakau di utara Brantas Jombang harus memutar otak.
Sembari menunggu tanah kering dan layak ditanami, mereka harus ekstra merawat bibit tembakau agar tak mati.
Salah satunya dengan melakukan clipping.
Seperti yang dilakukan Tek Diwanto.
Ia memiliki 30.000 bibit tembakau yang kini harus dirawat ekstra karena kondisi cuaca masih yang tak menentu.
”Di sini ada 3 jenis bibit, 10.000 jinten pakpie 1, 10.000 jinten pakpie 2, dan 10.000 jenis manilo, dan semuanya dirawat khusus,” terangnya.
Di areal pembenihan yang biasa disebut bedengan itu, Tek Diwanto, menyebut saat cuaca ekstrem ini, ia harus merawat benar-benar benihnya.
Salah satu yang sedang digencarkannya, adalah metode clipping.
Yakni, merawat atau memperpanjang usia benih tembakau dengan cara memotong sebagian daunnya.
”Sampai usia 35 hari ini kita sudah melakukan tiga kali clipping, karena memang cuacanya belum mendukung sepenuhnya untuk ditanam,” terangnya.
Ia harus mengerahkan sejumlah tenaga untuk membantunya memotong satu demi satu daun benih tembakau di persemaian.
Baca Juga: Keluarga Korban Petani Tembakau di Jombang Ini Terima Santunan dari BPJS Ketenagakerjaan
Upaya ini dilakukan saat benih berusia 25, 30, dan 35 hari.
”Dengan daunnya dipotong, penguapannya jadi lebih sedikit, selain itu juga fungsinya menguatkan batang bibit dan memperbanyak akarnya. Karena nanti di usia 40 harus sudah bisa ditanam,” terangnya.
Jika tidak di-clipping, Tek menyebut bibit akan cenderung gampang mati. Terlebih, ketika hujan masih sering datang hingga membuat batang cepat membusuk.
”Padahal kalau cuaca normal, usia 20 hari itu sudah bisa dilatih jemur, dan usia 30 sudah full dijemur, tapi karena masih ada hujan jadi belum bisa,” terangnya.
Selain clipping, ia menyebut perawatan bibit ini juga harus ekstra. Termasuk menutup tanaman dengan plastik saat hujan datang.
”Saat hujan harus ditutup kalau sekarang, sama semprotan fungisida itu juga harus terus agar jamurnya tidak membeludak,” lontarnya.
Upaya itu cukup menguras tenaga dan modal. Namun tak ada pilihan lain jika petani mau tetap menanam tembakau.
”Ya memang ada kenaikan modal, bisa 10-20 persen dari normal, tapi ya ini upaya kalau tidak begini tidak bisa tanam,” pungkasnya. (riz/naz)
Editor : Ainul Hafidz