JombangBanget.id - Katib Syuriyah PBNU sekaligus Pengasuh PP Al Muhajirin 3 Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, KH Abd Latif Malik LC, menjelaskan keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah.
’’10 awal Dzulhijjah sangat mulia sampai dipakai sumpah oleh Allah SWT. Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh,’’ tuturnya mengutip QS Al-Fajr: 1–2, saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Jumat (30/5).
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah).
Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?"
Beliau menjawab, ’’Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun dari itu.
Disunahkan puasa, terutama pada hari Arafah.
Rasulullah bersabda: Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar itu menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Hari ke-9 dari Dzulhijjah adalah hari Arafah, hari ketika para jamaah haji wukuf di Arafah. Bagi yang tidak berhaji, disunahkan untuk berpuasa.
Hari ke-10 Dzulhijjah Idul Adha.
Ini hari besar umat Islam, dan hari untuk melaksanakan kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, mengikuti teladan Nabi Ibrahim dan Ismail 'alaihimassalam.
10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah waktu yang sangat istimewa.
Allah mengangkat keutamaannya dalam Alquran melalui sumpah-Nya di awal Surah Al-Fajr.
Maka, sudah sepatutnya setiap muslim memanfaatkannya dengan memperbanyak amal kebaikan dan ibadah untuk meraih pahala besar serta keberkahan dari Allah SWT.
Alkisah, Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf punya teman di Makkah. Ketika keduanya berada di tempat gersang nan tandus, si teman wafat.
Abu Yusuf pun keluar mencari kain kafan. Namun dia kaget karena saat kembali temannya sudah dikerumuni banyak peziarah.
Dia makin kaget saat melihat kain kafan berwarna hijau yang membungkus temannya bertuliskan:
’’Inilah balasan orang yang mengutamakan rida Allah ketimbang rida dirinya sendiri; orang yang rindu menemui-Ku dan karenanya Aku pun rindu menemuinya.’’
Setelah mengubur jenazah, Abu Yusuf mimpi melihat temannya menunggang kuda.
Di belakang ada satu orang yang sangat tampan di kawal empat orang. Abu Yusuf bertanya, siapa mereka?
Temannya menjawab, itu Nabi Muhammad SAW dan empat sahabat yang hendak menziarahiku.
Abu Yusuf pun kagum dan bertanya, ’’Bagaimana kamu bisa mendapatkan kemuliaan semacam ini?’’
’’Sebab aku memprioritaskan rida Allah dibanding rida diriku sendiri dan aku berpuasa pada tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah,’’ jawab temannya.
Sejak itu, Abu Yusuf selalu berpuasa tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz