SILANG pendapat soal penyebutan Jombang kian ramai di media sosial.
Julukan “Kota Santri” yang sudah lama melekat, kini disebut-sebut akan digeser oleh julukan baru: “The Root of Java.” Langkah ini memunculkan reaksi beragam.
Sebagian menilainya sebagai bentuk penguatan identitas baru. Namun, sebagian lain menganggapnya sebagai bentuk pengingkaran terhadap sejarah istimewa kota ini.
Apakah benar akan terjadi penggantian sebutan, atau hanya penambahan identitas baru?
Jika ditelusuri lebih dalam, sebenarnya tidak ada yang perlu dipertentangkan.
“Kota Santri” dan “The Root of Java” bisa berdampingan. Bahkan, keduanya bisa saling berbagi fungsi.
“Kota Santri” difungsikan sebagai identitas kultural dan sosial masyarakat.
Sementara “The Root of Java” digunakan sebagai identitas formal yang akan dicantumkan dalam laman pemkab untuk kepentingan branding resmi daerah.
Sebutan “Kota Santri” bukanlah istilah yang dipatenkan oleh pemerintah. Ia tumbuh dari sejarah panjang dan kedekatan Jombang dengan dunia pesantren.
Dari kota ini lahir nama-nama besar dalam sejarah pergerakan Islam, kebangsaan dan pemikiran.
Mereka antara lain KH. Hasyim Asy’ari, Gus Dur, dan Cak Nurcholis Majid.
Baca Juga: Gus Zu'em: UGM-ku Sayang, UGM-ku Malang
Selain itu, keberadaan kota yang ber-icon ringin contong ini seolah dijaga dan dibentengi empat pesantren legendaris di tiap penjuru arah mata anginnya : di sebelah timur – Rejoso, selatan – Tebuireng, barat – Denanyar, dan di utara – Tambakberas.
Namun realitanya, kini banyak daerah lain yang juga menggunakan sebutan “Kota Santri.”
Saya pernah hadiri walimahan pejabat daerah di Situbondo, Bangkalan, dan Gresik.
Pembawa acara di masing-masing daerah itu dengan bangga mengucapkan “Selamat Datang di Kota Santri”.
Bahkan di laman Kabupaten Pekalongan, kota SANTRI sudah termaktub jelas sebagai mottonya.
Hal ini tentu menjadikan sebutan tersebut semakin umum dan kurang spesifik untuk branding.
Dalam konteks inilah, muncul kebutuhan untuk menghadirkan identitas resmi yang lebih khas: “The Root of Java.”
Sebutan ini tidak hadir untuk meniadakan “Kota Santri”, tetapi untuk memperluas narasi Jombang sebagai daerah yang memiliki akar sejarah, budaya, dan nilai yang kuat di jantung peradaban Jawa.
Kita bisa belajar dari kota-kota lain yang memiiki lebih dari satu sebutan.
Yogyakarta dikenal sebagai “Kota Pelajar”, “Kota Gudeg” sekaligus “Kota Budaya”.
Bandung disebut “Kota Kembang” sekaligus “Paris van Java”.
Surabaya, selain disebut “Kota Buaya”, juga dikenal dengan “Kota Pahlawan”.
Tidak ada yang memperdebatkan mana yang lebih sah atau lebih utama.
Hal serupa bisa juga diterapkan di Jombang. “Kota Santri” tetap bisa digunakan dalam ranah budaya dan keseharian.
Ia tidak perlu dihapus, karena sudah menjadi bagian dari identitas kolektif warga.
Sementara “The Root of Java” dapat digunakan secara formal, untuk kepentingan promosi daerah, wisata, dan penguatan daya saing regional maupun internasional.
Justru, keberadaan dua identitas ini dapat memperkaya narasi tentang Jombang : sebagai kota religius sekaligus kota yang mengakar dalam sejarah dan budaya Jawa.
Oleh karena itu, polemik soal sebutan sebaiknya tidak berlarut.
Energi masyarakat Jombang lebih baik diarahkan untuk memperkuat nilai dan substansi dari identitas itu sendiri.
Apalah artinya sebuah nama jika perilaku dan kebijakan tidak mencerminkan semangatnya.
Maka, “Kota Santri” harus terus diwujudkan dalam bentuk pendidikan yang bermoral, tata kota yang agamis, dan kehidupan sosial yang mencerminkan nilai-nilai harmoni silaturahmi.
“The Root of Java” harus dijelmakan melalui pelestarian budaya, pembangunan yang berbasis sejarah, dan inovasi yang tetap berpijak pada akar nilai luhur.
Perdebatan soal sebutan Jombang sebenarnya bukan soal mana yang lebih baik, tapi bagaimana keduanya bisa saling mendukung.
Tidak perlu saling meniadakan atau saling dipertentangkan.
Karena pada masing-masing sebutan itu sama-sama memiliki makna ideal yang menafasi gerak perjuangan kita untuk membangun Jombang yang menyejahterakan segenap warganya.
Jadi, polemik ini, sebenarnya tak lagi diperlukan. Karena akan buang-buang waktu dan tidak produktif.
Lebih baik kita manfaatkan waktu untuk saling menguatkan dan bergandengan tangan agar lebih mampu hadapi tantangan yang kian berat.
Dengan demikian, mimpi kita untuk mewujudkan Jombang yang Penuh Cinta ( JOPENTA ) akan lebih mudah menjadi kenyataan. Salam JOPENTA.. (*)
Editor : Ainul Hafidz