Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Kalam Jumat: The Furniture, Show Only

Ainul Hafidz • Jumat, 23 Mei 2025 | 14:32 WIB
Rubrik opini KH Mustain Syafii.
Rubrik opini KH Mustain Syafii.

Al-ladzina hum yura’unIni tidak membahasakan ulang dari tafsir sebelumnya, melainkan memperdalam perbedaan orang yang pamer demi pujian manusia dan memberi pelajaran berharga untuk umat tanpa menghilangkan esensi ibdah, Lillahi ta’ala. Apa bisa..? Pasti bisa.

Sedekah sering dipakai sebagai contoh. Sedekah, amal jariah yang diumumkan di publik, hukumnya boleh, asal tidak yang bersangkutan yang mengumumkan.

Atau meminta diumumkan. Rumusan riya’, pamer untuk manusia bukan ikhlas karena Allah SWT terletak di hati.

Nama anda tidak disebut pada suatu event, padahal anda berjasa, berprestasi, lalu hati anda kecewa dan kurang berkenan, maka sadarilah, bahwa diri anda kala itu sedang ’’bermasalah’’ dalam hal keberagamaan.

Atau nama anda disebut, tapi gelar anda tidak, kok hati anda kurang menerima, ’’yo, podo bejat-e.’’

Nyontohlah pak tani kala menanam jagung.

Biji jagung ditanam di dalam tanah secara terukur, tidak diperlihatan keleleran di atas tanah, lalu tumbuh dan berubah menjadi batang jagung dan berkembang.

Lalu berbuah dan dipanen. Andai dikelelerkan, tetap bisa tumbuh, tapi hasilnya kurang bagus. Lagian rawan dimakan burung,.. buyar jadinya. Gak mangan, ngaplo.

Keimanan manusia menjadi tereduksi oleh sikap show only, mengutamakan tampilan dan pujian. Pasti berakibat risiko dan kerugian.

Amal model begitu itu masuk kategori imannya anak-anak.

Dalam menggambarkan kualitas pribadi, kaum sufistik mengunggah ilustrasi bagus sekali dengan mengangkat peran seorang anak dan orang dewasa yang sama-sama menemukan berlian sebesar kelereng.

Baca Juga: Kalam Jumat: The Furniture (15)

Anak kecil yang menemukan berlian mahal itu mesti dengan bangga diperlihat, dipertontonkan kepada teman dan orang sekitar.

Sambil woro-woro dia ngomong: ’’Hei..lihatlah, aku nemu iki.., bagus ya..?’’

Semakin banyak yang mengagumi dan memuji, akan semakin bangga dia.

Tidak sama jika yang nemu berlian tadi orang dewasa. Begitu tahu barang yang dipungut itu berlian mahal, langsung dimasukkan ke dalam saku dan diam.

Andai diserbu orang dan ditanya, pasti tidak menjawab tidak sebenarnya, berkata bohong demi keamanan. ’’Opo..? Gak ono opo-opo..’’

Perilaku dewasa ini tentu lebih aman agar berlian tidak lepas.

Berbeda dengan anak kecil yang woro-woro, terhadap orang tidak tahu, gak jaluk yo gak takon, diberitahu. Tentu rawan hilang atau ditipu orang.

Jika ada orang yang memasang identitas dirinya di baliho atau papan iklan, bahwa si dia sebagai ’’Wah, waw.. haji sekian kali, derajatnya tinggi, ketemu Nabi Khadir, bla.. bla..”, maka jangan dicaci.

Doakan semoga Allah SWT mengampuni.

Maklum, sufistiknya masih anak-anak. Semoga cepat dewasa. Begitu wejangan sufistik al-Imam Ibn Atha’illah al-Sakandari dalam teori dafn al-wujud. (*)

Penulis:

KH Mustain Syafii

Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang

Editor : Ainul Hafidz
#Tebuireng #KH Mustain Syafii #Jumat #kalam #Jombang #Kalam Jumat #pamer