“SAYA ini doktor”. Kata seorang nara sumber dengan menepuk dada dalam sebuah acara talk show di TV nasional.
Universitas saya negeri, bukan abal-abal, lanjutnya.
Kalimat itu terucap dalam konteks mempertahankan pendapatnya saat diserang “lawan” diskusinya yang belum S-3.
Kemudian ada juga narasumber yang demikian mudahnya mengucapkan kata-kata yang merendahkan orang lain : dun**, tol** dan semacamnya.
Dalam pandangan saya, realitas itu menunjukkan makin terlepasnya nilai akhlak, keluhuran budi pekerti dari capaian keilmuan seseorang.
Akibatnya, sikap tinggi hati yang merendahkan atau angkuh, menjadi sesuatu yang melazim dalam pergaulan intelektual di media.
Dalam dunia ilmu pengetahuan, kerendahan hati seharusnya menjadi sifat utama seorang ilmuwan.
Ilmu, sejatinya, bukan sekadar akumulasi informasi, melainkan pemahaman yang terus berkembang, senantiasa diuji, disempurnakan, bahkan dibantah.
Pepatah bijak mengatakan, “Belajarlah ilmu padi, makin berisi makin merunduk.”
Ungkapan ini bukan hanya kiasan, melainkan prinsip moral yang menuntun siapa saja yang menggeluti dunia intelektual agar tidak terjebak dalam keangkuhan.
Keangkuhan intelektual adalah kondisi di mana seseorang merasa dirinya paling tahu, paling benar, dan merendahkan pandangan lain hanya karena tidak sejalan dengan pemikirannya.
Baca Juga: Gus Zu'em: Medidik Orang Tua
Ironisnya, sikap ini seringkali muncul dari mereka yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi atau gelar akademik berderet.
Padahal, semakin dalam seseorang memahami ilmu, seharusnya semakin ia menyadari betapa luasnya ketidaktahuan yang masih membentang.
Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Cukuplah kebodohan bagi seseorang apabila ia merasa dirinya paling pandai.”
Ungkapan ini menggambarkan bahwa merasa telah mencapai puncak ilmu justru merupakan bentuk dari kebodohan itu sendiri.
Ilmu menuntut kita untuk senantiasa rendah hati, sebab tidak ada satu manusia pun yang mampu menguasai seluruh cabang pengetahuan.
Sementara itu, Imam Syafi'i, ulama besar yang mazhabnya diikuti mayoritas muslim Indonesia, pernah berkata, “Pendapatku benar, namun bisa saja salah. Pendapat orang lain salah, namun bisa saja benar.”
Inilah cerminan adab intelektual sejati: membuka diri terhadap perbedaan, mengakui kemungkinan kekeliruan, dan tidak menjadikan ilmu sebagai alat untuk meninggikan diri di atas orang lain.
Ilmu pengetahuan itu bersifat dinamis dan terbuka terhadap koreksi.
Sejarah mencatat banyak teori besar yang pada akhirnya direvisi atau bahkan ditinggalkan karena ditemukannya bukti baru.
Seorang ilmuwan sejati menyadari bahwa setiap pencapaian intelektual adalah bagian dari proses panjang menuju pemahaman yang lebih utuh.
Maka, merasa telah mencapai kebenaran mutlak adalah bentuk keangkuhan yang justru menodai semangat ilmiah itu sendiri.
Lebih jauh lagi, keangkuhan itu bisa berbahaya ketika dibawa ke ruang publik. Seorang ilmuwan yang bersikap arogan cenderung menggurui, bukan mendidik.
Ia berbicara untuk menunjukkan kehebatan diri, bukan untuk membagi manfaat pengetahuan.
Hal ini menciptakan jarak antara ilmuwan dan masyarakat, menumbuhkan ketidakpercayaan, bahkan anti-intelektualisme.
Sebaliknya, kerendahan hati mencerminkan kedewasaan berpikir.
Ia tidak merasa terancam oleh pandangan lain, tetapi terbuka untuk mendengar dan mempertimbangkan.
Seorang ilmuwan yang rendah hati menyadari bahwa gelar atau prestasi bukanlah pusaka yang harus dikeramatkan, melainkan sebuah tanggung jawab untuk terus belajar dan berbagi.
Dengan demikian, keangkuhan intelektual adalah musuh dari esensi keilmuan itu sendiri.
Sikap yang tidak mengindikasikan kedalaman ilmu, melainkan keterbatasan dalam memahami hakikat ilmu.
Oleh karena itu, harus dikikis habis. Sebab, semakin tinggi pengetahuan seseorang, seharusnya semakin besar kesadarannya akan keterbatasan manusia.
Dan dalam kesadaran itulah, ilmuwan sejati menemukan kemuliaannya.
Maka dari itu, pada kesempatan ini saya ingin mengungkapkan rasa syukur atas kebersamaan saya dengan para intelektual Jombang yang sangat rendah hati. Jauh dari kesan angkuh.
Sehingga saya merasakan aura keadaban yang tinggi ketika para ilmuwan seperti Prof. Harris, Prof. Amir Maliki, Prof. Munawaroh, Dr. KH. A. Kholiq, Dr. Chumaidah, Dr. Mujianto dan perwakilan dari perguruan tinggi swasta lainnya, berkenan memenuhi undangan bupati untuk silaturahmi.
Pada pertemuan yang pertama kali diselenggarakan bupati Jombang secara khusus itu, sangat wajar bila semua hadirin -yang notabene para intelektual- berharap bisa menyampaikan buah pikirannya.
Akan tetapi, karena akhlak telah menjadi pengendali keilmuannya, mereka dengan besar hati mematuhi himbauan tuan rumah untuk berdiskusi di lain waktu.
Alhamdulillah, tali silaturahmi telah tersambung.
Saya harap bupati dan para intelektual Jombang dapat segera bersinergi dengan kuat dalam langkah strategis yang nyata.
Agar masyarakat Jombang merasakan manfaatnya. Sehingga tidak sampai muncul pertanyaan : “mau dibawa ke mana hubungan kita.?”. (*)
Editor : Ainul Hafidz