JombangBanget.id - Imam Masjid Dr H Moeldoko, Jombang, KH Muhtarom Alhafiz, menjelaskan pentingnya menjaga negeri.
’’Di antara bentuk syukur adalah dengan menjaga negeri ini agar tetap damai, tenteram, dan sentosa,’’ tuturnya, saat khotbah di Masjid Satlantas Polres Jombang, Jumat (16/5).
Syukur yang benar tidak hanya diucapkan dengan lisan melalui kalimat alhamdulillahi rabbil 'alamin, tapi juga dibuktikan dalam bentuk perbuatan.
Menjaga kedamaian negeri bukan hanya tugas pemerintah, tapi tugas setiap warga negara.
Termasuk dengan menjaga keutuhan NKRI dan menanamkan rasa cinta tanah air kepada generasi muda kita.
Rasulullah Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah SWT.
Sebagai warga negara yang baik, kita harus menaati pemimpin yang sah, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam QS Annisa 59.
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri di antara kamu.
Ulama tafsir menjelaskan bahwa taat kepada ulil amri merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah, selama mereka tidak memerintahkan kepada maksiat.
Khalifah Umar bin Khattab radiyallahu 'anhu pernah berkata: Tidak ada Islam tanpa jamaah, tidak ada jamaah tanpa kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan tanpa ketaatan.
Pemimpin yang terpilih adalah bagian dari takdir Allah SWT.
Baca Juga: Binrohtal, Ini Alasan Manusia Harus Mengimani Takdir
Mungkin sebagian dari kita tidak puas, namun yakinlah bahwa Allah SWT lebih mengetahui apa yang terbaik bagi umat-Nya.
Maka tugas kita adalah mendukung segala kebaikan yang diperjuangkan oleh pemimpin kita, dan mendoakan mereka agar diberi petunjuk oleh Allah SWT.
Akhir-akhir ini, kita menyaksikan ada sekelompok orang yang ingin merusak kesatuan bangsa dengan membawa ideologi yang bertentangan dengan dasar negara kita, yaitu Pancasila.
Mereka ingin mengganti sistem yang telah disepakati oleh para ulama dan pendiri bangsa.
Padahal, kebhinekaan yang ada di Indonesia adalah anugerah Allah SWT.
Pancasila menjadi kalimatun sawa, titik temu yang menyatukan berbagai perbedaan. Oleh karena itu, kita wajib menjaganya.
KH Hasyim Asy'ari menegaskan: Mencintai tanah air (hubbul waton) adalah bagian dari iman.
Ungkapan ini menjadi dasar semangat nasionalisme yang tidak bertentangan dengan agama. Nasionalisme dan agama tidak perlu dipertentangkan.
Justru keduanya bisa saling menguatkan untuk membangun peradaban yang bermartabat.
Diriwayatkan, ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau tetap menaruh kerinduan terhadap kota Makkah.
Rasulullah bersabda: Wahai Makkah, sungguh engkau adalah negeri yang paling aku cintai.
Jika bukan karena kaummu mengusirku darimu, niscaya aku tidak akan keluar darimu.
Dari sini kita bisa memetik hikmah bahwa mencintai tanah air adalah fitrah, dan Islam mengajarkannya.
Mari kita jaga negeri ini bersama. Kita perkuat persatuan. Kita bina generasi muda dengan semangat cinta tanah air. Kita taati ulil amri dalam kebaikan.
Kita bersyukur kepada Allah SWT dengan amal nyata. Kita jadikan Indonesia sebagai negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur – negeri yang baik dan mendapat ampunan Allah SWT.
Semoga Allah senantiasa menjaga bangsa dan negara kita. Menjaga iman kita. Dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bersyukur. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz