JombangBanget.id – Usai mendapat laporan dugaan pencemaran saluran air dan area persawahan di Desa Sawiji dan Tambar, Kecamatan Jogoroto, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang, langsung menerjunkan tim untuk mengambil sampel.
Guna dilakukan uji lab kandungan air tersebut.
’’Setelah di uji lab, kondisi air sungai dan sawah masih di baku mutu aman,’’ kata Kepala DLH Jombang, Miftahul Ulum (11/5).
Pihaknya mengaku sudah mengambil beberapa sampel di sekitar titik lahan yang tercemar limbah.
Dari hasil uji lab kandungan air masih di baku mutu aman. Artinya, cemaran limbah tidak membahayakan terhadap lingkungan.
Terpisah, Ketua Komisi B DPRD Jombang, Anas Burhani, menegaskan pihaknya akan segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk mengecek instalasi pengolahan air limbah industri (IPAL) pabrik tahu yang terletak di Desa Sawiji tersebut.
’’Kita dorong pabrik tahu menunjukkan IPAL-nya. Harusnya, sebelum produksi mempunyai IPAL. Komisi B mendorong pertumbuhan ekonomi tetap berjalan, namun tetap dengan aturan-aturan itu, salah satunya pengolahan limbah harus ada. Nanti kita akan melakukan inspeksi untuk melihat itu,’’ urainya.
Sebelumnya, warga Desa Sawiji dan Desa Tambar, Kecamatan Jogoroto, Jombang, resah lantaran lahan per-taniannya tercemar limbah pengolahan tahu.
Mereka khawatir air yang tercemar limbah berdampak buruk pada hasil pertanian.
Kepala Dusun Tambar, Husni Mubarok, mengatakan, masyarakat sudah lama merasa resah dengan aliran limbah tahu ini. Limbah tersebut setiap hari mengalir.
’’Masalah limbah ini sejak 2019. Sempat ditangani Pemdes Tambar dan Pemdes Sawiji, sempat dimediasi oleh kecamatan juga, tapi dari pihak pabrik tidak ada iktikad untuk memperbaiki saluran maupun mengelolah limbah,’’ kata Husni, (6/5).
Selama ini warga bersabar atas pencemaran lingkungan itu, namun kesabaran warga ada batasnya.
’’Oktober 2024 waktu kemarau, limbah dibuang secara langsung ke sungai sehingga sempat ada penutupan saluran air,’’ ujarnya.
Tahun ini dia menerima informasi ada program dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terkait penanganan limbah.
Namun, lagi-lagi warga dibuat menunggu tanpa ada kepastian yang jelas terkait penanganan limbah itu.
’’Warga sudah terlalu lelah menunggu, kalau program DLH tidak berjalan sesuai yang diinginkan, jelas akan ada pergerakan yang lebih besar dari warga,’’ ucapnya.
Selain mengancam pertanian, limbah tahu juga mencemari sumur-sumur warga, hingga DLH melakukan pengecekkan kualitas air bersih di rumah warga.
’’Dampaknya ke pemukiman khususnya warga Tambar, bahkan sudah mencemari air sumur. Kapan hari pH air dicek oleh DLH dan hasilnya tidak stabil,’’ katanya. (yan/jif)
Editor : Ainul Hafidz