Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Binrohtal: Bukan Hanya Kesehatan Fisik, Ini Bekal Utama Haji yang Harus Disiapkan Sejak Sekarang

Rojiful Mamduh • Selasa, 13 Mei 2025 | 13:49 WIB
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - Ustad Addin Mustaqim Alhafiz, menjelaskan pentingnya menyiapkan bekal haji sejak sekarang.

Baik segera haji maupun masih harus menunggu lama.

’’Bekal haji yang harus kita siapkan sejak sekarang yakni takwa,’’ tuturnya, saat khotbah usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Jumat (25/4).

Sebagaimana disebutkan dalam QS Albaqarah 197.

Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.

Allah SWT menegaskan bahwa haji bukan hanya perjalanan fisik, tapi perjalanan hati dan jiwa.

Rafas (ucapan kotor), fusuq (kemaksiatan), dan jidal (perdebatan) adalah hal-hal yang dilarang karena merusak kesucian perjalanan spiritual ini.

Sebaliknya, Allah SWT memerintahkan untuk berbekal dengan takwa, yaitu kesadaran penuh akan kehadiran dan perintah Allah di setiap langkah.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Haji itu wukuf di Arafah.

Namun wukuf tidak hanya berdiri secara jasmani. Ia harus disertai dengan kehadiran batin dan penuh kekhusyukan.

Rasulullah bersabda: Barangsiapa berhaji karena Allah dan tidak rafas, tidak berbuat fusuq, maka ia kembali seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya.

Baca Juga: Binrohtal: 10 Perkara yang Menyebabkan Hati Mati

Haji yang mabrur adalah hasil dari haji yang dilandasi oleh kesucian niat, amal, dan akhlak, yang semuanya adalah buah dari takwa.

Sayidina Umar bin Khattab radiyallahu anhu berkata: Bertakwalah kalian kepada Allah, karena itu adalah bekal terbaikmu di dunia dan akhirat.

Imam Al-Ghazali menjelaskan, orang yang berangkat haji tanpa membekali diri dengan takwa seperti orang yang melakukan perjalanan panjang tanpa membawa air di padang pasir.

Suatu ketika para jamaah haji dari Baghdad kembali dan menceritakan bahwa mereka tidak melihat Imam Junaid di tanah suci.

Imam Junaid menjawab, ’’Aku telah berhaji bersama seorang tukang roti.’’

Ketika ditanya maksudnya, ia menjelaskan bahwa roti yang dihasilkan oleh si tukang roti itu halal dan dibuat dengan niat takwa dan amal saleh.

Allah SWT memperjalankan ruh dan amal mereka bersama ke tanah suci — lebih mabrur dari banyak yang hadir secara fisik, tapi lalai secara ruhani.

Haji adalah puncak dari ketaatan, namun juga awal dari hidup yang baru, yang lebih bertakwa.

Karena hanya dengan takwa, manusia akan memahami makna terdalam dari perjalanan ini: Menuju Allah, dengan hati yang bersih dan amal yang ikhlas.

Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: Orang yang berangkat ke Makkah dengan pakaian terbaik namun hatinya penuh penyakit riya dan cinta dunia, maka ia hanya sekadar menjadi musafir, bukan haji.

Imam Nawawi menyatakan; Haji yang diterima (mabrur) adalah yang menjadikan pelakunya lebih baik akhlaknya dan meningkat kebaikan amalnya. (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#Polres Jombang #haji #takwa #kesiapan #bekal #kesehatan #masjid #ibadah haji #Binrohtal #Jombang