Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Kalam Jumat: The Furniture (15)

Ainul Hafidz • Jumat, 2 Mei 2025 | 13:08 WIB

Rubrik opini KH Mustain Syafii.
Rubrik opini KH Mustain Syafii.

WA yamna’un al-ma’un. Tidak mau meminjami perkakas rumah tangga yang remeh, tapi merupakan kebutuhan.

Ini sekedar bantuan ringan, sekedar meminjami dan tidak ada kerugian materi yang signifikan.

Barang yang dipinjam tetap utuh, mungkin nilai manfaatnya berkurang. Meski begitu, hal itu tidak banyak berpengaruh.

Begitu detail Alquran menjelaskan kerja sosial, berbagi dan berbaik-baik sesama tetangga maupun teman hingga ke ’’meminjami’’ bukan memberi.

Meminjami itu sekedar mengalah, tidak memanfaatkan barang milik sendiri sementara, dalam waktu tertentu yang relatif pendek.

Meski sesederhana itu, tapi bagi yang tidak mau berbagi dikecam sebagai ’’pembohong agama’’.

Ini adalah akhir kriteria orang yang beragama bohong-bohongan.

Tentu saja nilai bohongnya berbeda dengan kriteria pada awal surat, yaitu tidak peduli terhadap perut  orang fakir, miskin, anak yatim dan orang-orang yang kelaparan.

Kecaman surah al-Ma’un ini tidak main-main, karena yang kecewa terhadap kepelitan mereka tidak hanya Tuhan, melainkan juga orang kelaparan yang bersangkutan.

Meski si miskin tidak mengutuk, tetapi Tuhan sangat mengerti, pelajaran apa yang pantas diberikan pada si kikir dan tega tersebut.

Rumusannya logik, ’’Siapa memberi, akan diberi. Siapa menolak, akan ditolak.’’

Baca Juga: Kalam Jumat: The Furniture (12)

Seorang gadis desa yang cantik jelita, oleh ayahnya dijodohkan dengan pria pedagang kain yang kaya.

Si gadis baru mengerti, bahwa sang suami sungguh pria pelit dan tidak suka berderma.

Sementara si istri pribadi yang santun dan suka berderma, didikan keluarganya yang baik.

Ketika bersama suami sedang makan siang, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

Ternyata seorang lelaki miskin mengemis meminta makanan. Si istri bergegas hendak memberi roti dan sepotong daging ayam.

Namun si suami melarang, padahal di meja makan ada dua ekor ayam utuh yang dimasak lezat. Suami menghardik pengemis tersebut dan mengusirnya.

Selang beberapa waktu, toko kain miliknya terbakar habis dalam satu malam, hangus bersama beberapa uang dan barang berharga.

Ekonomi mulai surut dan semakin miskin. Akhir kata, istrinya dipulangkan dan dicerai.

Karena masih jelita, meski janda, seorang pria berkenan menikahi dan bersama membangun kehidupan dari awal. Lama-lama menjadi kaya dan berkecukupan.

Saat bersama makan siang, terdengar suara ketukan pintu. Dibuka dan seorang pengemis meminta makan.

Pasangaan suami istri itu tahu, bahwa si pengemis adalah sang mantan. Lalu diberi roti dan daging ayam yang dimasak lezat.

Kepada istrinya, sang suami berkata: ’’Dulu, pengemis yang meminta makanan kepada kalian seperti ini dan ditolak itu adalah saya.’’

Roda kehidupan berputar, wa tilk al-ayyam nudawiluha bain al-nas. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami gilirkan di antara manusia (QS Ali Imron 140). (*)

Penulis:

KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang

Editor : Ainul Hafidz
#Tebuireng #KH Mustain Syafii #miskin #Jumat #kalam #Jombang #furniture #tetangga #Perkakas