JombangBanget.id - Pengasuh PP Kalimasada, Bangsri, Plandaan, sekaligus Ketua MWCNU Plandaan dan Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jombang, Dr KH Mokh Fakhruddin Siswopranoto, menjelaskan pentingnya meninggalkan jejak abadi di dunia yang fana.
’’Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya. Kehidupan ini panggung ujian bagi setiap manusia. Saat ini kita masih diberi kesempatan hidup. Namun suatu saat, pada waktu yang telah ditentukan, kita pasti akan meninggalkan dunia ini,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Senin (28/4).
Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan kematian bagi setiap makhluk.
Allah berfirman dalam QS Ali Imron 185. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.
Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari kehidupan yang sebenarnya. Maka dari itu, bijaklah kita dalam memanfaatkan sisa usia.
Seorang mukmin yang cerdas adalah mereka yang mampu berpikir strategis, tidak hanya hidup untuk dunia, tapi juga menyiapkan bekal untuk akhirat.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.
Pertama sedekah jariyah.
Ini adalah amal yang terus mengalir pahalanya, seperti membangun masjid, menggali sumur, menyediakan mushaf, atau bahkan menyantuni anak yatim.
Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu pernah berkata: Aku lebih menyukai harta bukan karena aku mencintai dunia, tapi agar aku bisa membelanjakannya di jalan Allah dan memberikan manfaat bagi kaum muslimin.
Kedua ilmu yang bermanfaat.
Ilmu yang kita ajarkan, tulisan yang kita sebarkan, dan nasihat yang kita sampaikan bisa menjadi pahala yang tak terputus.
Imam Asy-Syafi’i berkata: Ilmu itu adalah apa yang bermanfaat, bukan yang hanya dihafal.
Begitu pula, Hasan Al-Bashri, seorang tabi'in terkenal, berkata: Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah kumpulan hari.
Setiap kali satu hari pergi, maka pergilah sebagian darimu.
Maka, manfaatkan waktu dengan menyebarkan ilmu, walau sedikit, karena bisa jadi itulah jalan yang menyelamatkan kita kelak.
Ketiga anak saleh yang mendoakan.
Mendidik anak agar menjadi pribadi saleh adalah investasi jangka panjang dunia akhirat.
Jika mereka rajin beribadah, berakhlak mulia, dan mendoakan orang tuanya, maka aliran pahala akan terus mengalir.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan pentingnya tarbiyah (pendidikan) anak sejak dini.
Ia berkata: Mendidik anak adalah membentuk manusia seutuhnya. Jika anak dibiarkan tumbuh liar, maka akan hancurlah masa depannya dan masa depan umat.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani selama hidupnya tidak hanya menyebarkan ilmu, tetapi juga mendirikan lembaga pendidikan dan memperbaiki akhlak umat.
Hingga hari ini, berabad-abad setelah wafatnya, amal beliau masih terus dikenang dan ilmunya masih mengalir.
Begitulah seharusnya hidup seorang mukmin: Meninggalkan warisan kebaikan, jejak yang dikenang oleh manusia dan dicintai oleh langit.
Kita semua sudah divonis mati. Waktu kita terbatas. Maka bertindaklah secara strategis dalam hidup.
Jangan habiskan usia untuk hal-hal yang tak bernilai kekal. Tinggalkan sesuatu yang monumental: Bangun masjid, ajarkan ilmu, didik anak menjadi pejuang Islam.
Karena sejatinya, hidup bukan tentang berapa lama kita hidup, tapi tentang apa yang kita tinggalkan setelah mati. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz