JombangBanget.id – Nasib embung Karangpakis di Kecamatan Kabuh, Jombang tak lagi bisa diandalkan petani.
Pasalnya, sudah bertahun-tahun keberadaan embung tak bisa beroperasi maksimal untuk menyuplai kebutuhan pengairan sawah petani di utara Brantas.
Pantauan di lokasi, meski musim penghujan, embung Karangpakis tak bisa menampung air secara maksimal, bahkan cenderung kering.
”Sudah hampir enam tahun tidak dipakai, makanya di sana (embung) ada yang ditanami padi,” kata Ngatimin salah seorang warga, Senin (14/4).
Dijelaskan, tiap tahun embung itu tak bisa menampung air dengan maksimal.
Penyebabnya, karena selama ini tak ada lagi pasokan air didapat di tubuh embung.
”Dulu pasokan airnya itu dari dataran tinggi sebelah utara. Waktu hujan airnya mengalir dan masuk ke embung. Tetapi, sejak mulai ada galian, airnya sekarang sudah tidak bisa lagi mengalir ke embung,” imbuh dia.
Kendati musim hujan, Embung Karangpakis tetap tak bisa menampung air dengan maksimal.
Kondisi ini diperparah dengan kawasan sekitar embung yang berubah menjadi cerukan besar lantaran sebelumnya digali.
”Malah sekarang sebelah utara embung itu lebih rendah daripada embung,” ujar Ngatimin.
Karena sudah tak bisa menampung air, pasokan pengairan sawah juga mandek hampir enam tahun terakhir.
Rata-rata petani kini membuat sumur bor di setiap sawahnya.
”Di sini itu dalam satu tahun hanya sekali tanam padi. Sekarang setelah panen itu sawahnya dibiarkan bero (tidak ditanami), lalu ditanami jagung atau tembakau,” papar dia.
Di wilayah setempat menurut dia, terdapat tiga embung. ”Embung Karangjati juga sama tidak bisa dipakai lagi, hanya di Sumberjo yang masih fungsi,” kata Ngatimin.
Sementara itu, Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Jombang Sultoni tak menampik, Embung Karangpakis saat ini sudah tak lagi bisa difungsikan lagi.
”Jadi begini, Embung Karangpakis itu kondisi saat ini beda dengan dulu, karena faktor ada aktivitas penambangan sisi utara. Kalau tidak salah bekas tambang, itu sekarang elevasinya lebih rendah dari embung,” kata Sultoni.
Di sisi utara embung, dulunya merupakan daerah perbukitan. Perjalanannya karena adanya aktivitas tambang, daerah perbukitan kini habis. Suplai air ke embung sudah tak ada lagi.
”Dulu itu posisinya seperti miring, perbukitan sisi utara lebih tinggi. Sisi selatan embung, akhirnya air dari ereng-ereng atau perbukitan mengalir ke embung semua. Sudah dikepras dan digali sekarang kondisinya (embung) lebih rendah,” ujar dia.
Embung itu ke depan bakal terus tak berfungsi sebagaimana mestinya. Sebab, sudah tak memungkinkan dilakukan penanganan.
”Yang terpenting status tanah masih ikut pemerintah dan sebagai aset pemerintah. Karena lingkungan tidak mendukung, sehingga tidak bisa difungsikan sebagai embung lagi,” kata Sultoni. (fid/naz)
Editor : Ainul Hafidz