Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Binrohtal, Puasa Enam Hari di Bulan Syawal, Maka Dia Seperti Puasa Setahun Penuh

Rojiful Mamduh • Selasa, 15 April 2025 | 12:51 WIB
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - Katib Syuriyah MWCNU Jogoroto, Jombang sekaligus Wakil Ketua MUI Jogoroto, KH M Sholahuddin Kariim, menjelaskan pentingnya menjaga kemaqbulan amaliyah selama Ramadan.

’’Hari raya yang sebenarnya bukan diwarnai dengan baju baru, sarung baru dan serba baru lainnya. Melainkan makna hari raya atau Syawal adalah ketaatannya, kebaikannya, keimananya, ketakwaannya yang semakin meningkat,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Senin (14/4).

Sesuai makna syawal yang berarti meningkat.

’’Dengan modal kita diembleng, ditarbiyah oleh Allah SWT selama sebulan Ramadan, dapat kita jadikan pembelajaran yang bermakna,’’ ucapnya.

Sehingga selama 11 bulan lainnya, ibadah kita bisa meningkat.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berkata: Orang yang hanya beribadah sungguh-sungguh di bulan Ramadan saja, maka dia adalah ‘hamba musiman’.

Padahal, Tuhan Ramadan adalah Tuhan di seluruh bulan.

Imam Al-Ghazali menegaskan, tujuan dari puasa adalah penyucian jiwa, dan jika itu berhasil, maka akan tampak dalam akhlak dan ibadah kita setelah Ramadan.

’’Di antara tanda diterimanya amal baik yakni kebaikan setelahnya,’’ terangnya.

Makanya kita dianjurkan puasa enam hari di bulan Syawal.

Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Orang yang puasa Ramadan ditambah enam hari di bulan Syawal maka dia seperti puasa setahun penuh.

Baca Juga: Binrohtal, Pentingnya Menjaga Spirit Ramadan

Sufyan ats-Tsauri pernah bermukim di Makkah selama tiga tahun.

Dia berteman dengan penduduk setempat. Suatu ketika temannya itu hendak wafat dan berwasiat: Apabila aku mati, mandikanlah aku dengan tanganmu sendiri, salatkan, lalu kuburkan.

Dan jangan kau tinggalkan aku sendirian di kuburan malam itu. Bacakan talqin (tuntunlah) aku tentang tauhid dalam menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir.

Sufyan mengiyakan semua pesan itu. Ketika temannya itu wafat, Sufyan mulai melaksanakan wasiat satu per satu, termasuk rela bermalam di sebelah kuburan sang sahabat.

Dalam kesunyian, ia memperoleh pengalaman spiritual yang tak disangka-sangka.

Kala itu, antara tidur dan terjaga, Sufyan tiba-tiba mendengar suara asing dari atas: ’’Wahai Sufyan, pria ini tak membutuhkan penjagaanmu, juga hiburanmu. Kamilah yang akan menghibur dan menuntunnya!’’

’’Sebab apa?’’ tanya Sufyan. ’’Dengan puasa Ramadan yang disambung puasa enam hari pada bulan Syawal,’’ jelas suara itu.

Sufyan bangun, membuka mata dan tak ia dapati siapa pun di sekelilingnya. Ia berwudu lalu menunaikan salat. Saat tidur kembali, suara itu hadir lagi.

Begitu seterusnya sampai berulang tiga kali.

Sufyan pun mantap bahwa apa yang ia alami berasal dari Allah SWT, bukan dari setan.

Ia lantas meninggalkan kuburan pria ahli ibadah tersebut dengan tenang dan berdoa: Allahumma waffiqni li siyami zalik bi mannika wa karamika (Ya Allah, berikanlah aku taufik untuk menjalankan puasa itu atas anugerah dan kemuliaan-Mu). amin. (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#Polres Jombang #puasa #masjid #setahun #Binrohtal #Jombang #ramadan #syawal