JombangBanget.id - H Hadzik Ainur Rizqi, menjelaskan sifat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam yang perlu diteladani.
’’Dalam surat At-Taubah ayat 128, ada empat sifat Nabi yang perlu kita teladani,’’ tuturnya, saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Jumat (11/4).
Pertama, azizun (berat terasa olehnya).
Semua kesengsaraan, kesusahan, kesedihan, dan hal-hal pahit lain yang dirasakan umat Islam, juga dirasakan oleh Nabi Muhammad SAW.
Ia merasakan semua itu sebelum dirasakan oleh umatnya. Bahkan semua waktu-waktu yang ia miliki hanya digunakan untuk memikirkan umatnya.
Tidak hanya di dunia, Rasulullah juga selalu disibukkan dengan urusan-urusan umatnya ketika di akhirat.
Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi menyatakan; Ketika semua umat manusia dikumpulkan di mahsyar (tempat berkumpulnya manusia setelah dibangkitkan dari kubur).
Saat itu, terik matahari begitu panas, api neraka berkobar, hisab amal kebaikan dan keburukan tak kunjung selesai.
Di saat yang bersamaan, semua manusia dalam keadaan yang sangat bingung.
Satu persatu manusia meminta pertolongan kepada para nabi, namun mereka enggan untuk memberikan pertolongan.
Mereka justru sibuk dengan urusan nasibnya sendiri.
Baca Juga: Binrohtal, Ini Tanda Orang Bertakwa dalam Alquran Surah Ali Imron 134
Namun Rasulullah mau bersujud kepada Allah SWT dengan berkata ’’Allahumma ummati, ummati, ummati-Ya Allah, umatku, umatku, umatku’’ sambil menangis.
Melihat Rasulullah menangis dalam keadaan bersujud, Allah SWT berkata kepada Malaikat Jibril alahissalam, ’’Pergilan kepada Muhammad, kemudian tanyakan, apa penyebab ia menangis.’’
Jibril langsung mendatangi dan menanyakan alasan Rasululah menangis. Nabi menjawab; ’’Allah lebih tahu penyebab semua ini.’’
Mendengar jawaban Rasulullah, Jibril langsung menuju Allah untuk menyampaikan jawabannya.
Setelah disampaikan, Allah berkata keada Jibril; ’’Maka katakanlah, ‘Sungguh, Kami (Allah) akan membuatmu rida dalam masalah umatmu, dan Kami tidak akan menyakitimu.’’
Kedua, harishun (sangat menginginkan keimanan).
Salah satu sifat mulia dalam diri Rasulullah, terdapat keinginan yang sangat besar agar semua umat manusia berada dalam keimanan dan cahaya hidayah, serta jauh dari semua bentuk kemusyrikan.
Ambisinya yang sangat tinggi dalam mengajak manusia untuk memeluk ajaran Islam sangat tampak.
Misalnya, ketika rintangan datang silih berganti, permusuhan, fitnah yang bertebaran, serangan dan ancaman yang selalu berdatangan, tidak lantas memengaruhi semangatnya dalam berdakwah dan melakukan upaya untuk menunjukkan jalan yang benar kepada semua manusia.
Ketiga dan keempat, raufun rahimun (penyantun dan penyayang).
Rasulullah sangat penyantun dan penuh kasih sayang.
Imam al-Baghawi dalam tafsirnya Ma’alimut Tanzil mengutip salah satu pendapat ulama bahwa kasih sayang dan sikap santun Rasulullah tidak hanya kepada umat Islam yang taat saja, namun juga kepada mereka yang sering berdosa dengan banyak melakukan maksiat.
’’Rasulullah penyantun kepada orang-orang yang taat, dan penyayang kepada orang-orang yang berdosa,’’ tegasnya. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz