Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Gus Zu'em: Medidik Orang Tua

Ainul Hafidz • Senin, 7 April 2025 | 14:26 WIB
KH Zaimuddin Wijaya As
KH Zaimuddin Wijaya As

SELAMA Ramadan kemarin, baik di Whatsapp Group maupun di platform media sosial lainnya, saya sering menerima kiriman video anak SD yang sedang mengikuti lomba cerdas cermat tahun 90-an.

Mereka begitu cepat menjawab pertanyaan.

Adegan tersebut disambung dengan video anak sekolah sekarang yang kesulitan dalam menghitung perkalian, matematika.

Dalam narasinya, si pengirim mencoba membandingkan hasil didikan masa lalu dan masa sekarang yang bak langit dan bumi.

Saya sempatkan baca komentar-komentar di bawahnya.

Mayoritas komentar menyalahkan sistem pendidikan kita yang gonta-ganti kurikulum dan lemahnya instrumen evaluasi.

Hehe.. saya hanya senyam-senyum saja melihat kebiasaan saudara-saudara kita yang lebih senang menilai negatif tentang fenomena yang terjadi, tanpa mencoba memahami munculnya realitas itu dari perspektif yang lebih luas.

Mungkin karena mereka enggan mengizinkan sumber kebenaran dari arah lain untuk masuk dalam benaknya.

Akibatnya, diperoleh perbandingan : dari sekian banyak komentar, kira-kira hanya 10% yang komentarnya moderat dan mencerahkan.

Selebihnya, kurang mendidik meski terkadang dari orang terdidik.

Oleh karena itu, saya ajak Anda mencermati video satire tersebut dengan sedikit serius dan menggunakan akal sehat, sebagai berikut :

Pertama, membandingkan peserta kompetisi (cerdas cermat) masa lalu harusnya dengan peserta olimpiade saat ini, supaya aple to aple.

Bukan seperti postingan yang ramai beredar sekarang yang membandingkan siswa terlatih dan berprestasi dikomparasikan dengan siswa biasa-biasa secara random.

Di dunia akademis, perbandingan seperti itu menyesatkan.

Karena salah satu syarat komparasi adalah adanya “Kesamaan Dasar atau Konteks” : kedua hal yang dibandingkan harus memiliki dasar atau kategori yang sama.

Misalnya, membandingkan dua jenis smartphone dari merek berbeda lebih masuk akal dibandingkan mengomparasikan smartphone dengan telepon kabel.

Kedua, kompetensi anak didik itu tidak terletak pada kemampuan hitung-menghitung saja.

Akibatnya, kesan yang muncul, anak pintar adalah anak yang pandai matematika, bukan anak yang pandai menulis cerpen, menguasai bahasa asing atau mahir ber-public speaking .

Saya punya teman yang sangat menguasai statistik, tapi dia kesulitan bila membuat pantun untuk menghidupkan suasana komunikatif.

Oleh karena itu, mindset yang digunakan dalam video itu harus diluruskan.

Ketiga, kurikulum itu harus dinamis dan adaptif dengan kebutuhan zaman.

Janganlah kita yang sudah mantan siswa puluhan tahun lalu ini merasa terdidik dengan kurikulum yang lebih baik dibanding kurikulum sekarang.

Zaman sudah berubah. Dulu kita barangkali lebih mudah belajar karena yang kita hadapi hanya guru dan buku.

Belum ada internet dan medsos yang tiap saat tiap waktu mengguyur berbagai jenis informasi, sehingga begitu mudah memengaruhi perilaku murid.

Saya yakin, bila kurikulum masa lalu diterapkan, pasti anak-anak akan mencari sumber belajar dari internet yang berlimpah yang justru sulit kita kendalikan.

Keempat -ini yang sering dilupakan- peran orang tua masa kini telah mengalami degradasi.

Dulu orang tua juga berperan menjadi guru atau partner pendidik yang efektif, sehingga sepulang kerja, orang tua kita bisa dengan fokus menemani kita belajar.

Dan bila kita melakukan kesalahan di sekolah, kita mendapat "sanksi" tambahan di rumah.

Sekarang, para orang tua sepulang dari kerja, tidak lagi bisa menemani anaknya belajar dengan fokus, karena perhatiannya lebih tertuju pada gadget-nya.

Sudah begitu, bila anaknya melakukan kesalahan dan mendapat hukuman di sekolah, orang tua justru berperan jadi pembela, sehingga sekarang -de facto- sekolah punya dua murid : anak dan orang tuanya.

Untuk itu, saya usul, sebelum seorang calon wali murid memasukkan anaknya ke sekolah, perlu dipikirkan alokasi waktu untuk membekali atau mendidik orang tua agar menjadi wali murid yang dapat menjadi faktor pendukung dari kelancaran program sekolah.

Dengan demikian beban psikologis guru dapat terkurangi, karena guru sudah demikian berat bebannya sekarang.

Selain tugas profesinya, mereka juga punya beban tugas administratif yang bisa mengurangi fokus mengajarnya.

Belum lagi secara finansial -terutama guru-guru swasta- yang jauh dari layak, sehingga membebani pikirannya yang harus memutar otak lagi untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Inti dari uraian saya di atas, mari pahami kompleksitas problem pendidikan kita dengan arif.

Mari ambil bagian pada peran yang bisa kita lakukan. Karena pada hakikatnya, setiap orang dewasa adalah pendidik bagi generasi mudanya.

Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir-batin. (*)

Editor : Ainul Hafidz
#Gus Zuem #PP Darul Ulum Rejoso #mendidik #kurikulum #Pendidikan #Jombang #KH Zaimudin As'ad #Kolom Gus Zuem #orang tua #UNIPDU Jombang