JombangBanget.id - Pengasuh PP Mihajul Abidin, Desa Janti, Kecamatan Jogoroto, Jombang, H Nur Hasan Fadhil Alhafiz, menjelaskan tingkatan sabar.
’’Sabar ada tiga tingkatan,’’ tuturnya mengutip Syekh Ibnu Abid Dunya (208-281 H) dalam karyanya as-Shabru wa Tsawâb ‘alaihi, saat khotbah di Masjid Polres Jombang, Jumat (28/3).
Pertama, sabar atas musibah. Kedua, sabar dalam menjalani ketaatan. Ketiga, sabar atau menahan diri dari laku kemaksiatan.
Sabar yang terakhir adalah sabar dengan tingkatan tertinggi.
Rasulullah Muhammad salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sabar ada tiga tingkatan; Sabar atas musibah, sabar dalam menjalani ketaatan, dan sabar dari laku kemaksiatan.
Siapa saja yang sabar menghadapi musibah, sampai ia mampu merestorasinya sebaik mungkin, Allah SWT akan mengangkat 300 derajatnya.
Di mana, satu dengan lainnya berjarak sejauh antara langit dan bumi. Dan, yang bersabar dalam menjalani ketaatan, Allah SWT mengangkat 600 derajatnya.
Di mana, satu dengan lainnya berjarak sejauh antara lapisan-lapisan bumi dan batas (ketinggian) arsy.
Sedangkan, bagi yang bersabar dari laku kemaksiatan, Allah SWT mengangkat 900 derajatnya.
Di mana, satu dengan lainnya berjarak dua kali lipat antara lapisan-lapisan bumi dan batas (ketinggian) arsy.
Segala bentuk kesusahan dan derita yang dirasakan umat adalah ujian keimanan dari Allah SWT.
Baca Juga: Binrohtal, Lima Amalan di Pengujung Ramadan
Iman yang hakiki yaitu iman yang tak lekang waktu, tempat dan kondisi; suka ataupun duka, lapang atau sempit.
Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah memberi analogi keimanan.
Ia berkata: Ingatlah! Sabar mempertahankan keimanan layaknya kepala dalam satu tubuh. Bila dipenggal, habislah tubuh itu.
Sayidina Ali mengangkat suaranya, dan menyampaikan, Ingatlah! Sungguh, tiada iman bagi yang tak memiliki kesabaran.
Meskipun sabar memiliki tingkatan, dari yang paling rendah sampai yang tertinggi, namun sejatinya bukan tentang tingkatan. Tetapi soal misi mempertahankan keimanan.
Terkait tingkatan sabar, itu hanya indikasi dari tingkat keimanan seseorang.
Imam al-Husain bin Abdurrahman berkata tentang sabar: Bila engkau tak berlapang dada menghadapi segala urusan, tentu akan mempersulit dirimu, maka lapangkanlah dadamu dan permudahkanlah setiap kesulitan.
Belum pernah kutemukan hal yang paling komplet untuk menghadapi malapetaka selain takwa, belum juga kudapati sesuatu yang paling ampuh mengobati kebencian selain sabar.
Imam Ibrahim at-Taimiy mengatakan: Setiap kali Allah SWT menganugerahi kesabaran pada hamba-Nya, baik atas rasa sakit, malapetaka, dan musibah, pasti juga memberinya yang lebih baik dari (ganjaran) keimanan itu sendiri.
Dan sabar itu tiada batasnya. Makanya Allah SWT juga memberi pahala tanpa batas.
Sebagaimana disebutkan dalam QS Azzumar ayat 10. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang diberi pahala tanpa batas. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz