JombangBanget.id – Mendekati puncak panen raya padi, petani di utara Sungai Brantas Jombang mengeluh.
Pasalnya, harga jual gabah di tingkat petani Rp 5.500 per kilogram.
Harga tersebut jauh dibawah HPP (harga pembelian pemerintah) yang ditetapkan, Rp 6.500 per kilogram untuk gabah kering panen (GKP).
’’Jual ke tengkulak kemarin Rp 5.500 per kilogram,’’ kata Sukarsini, salah satu petani di Desa Sumberingin, Kecamatan Kabuh, Jombang.
Jelang hari raya Idul Fitri petani wilayah setempat sudah mulai memanen padi.
Namun, tak diiringi dengan harga yang bagus. Harga tersebut cenderung turun dibanding beberapa hari yang lalu.
’’Sebelumnya ada yang Rp 5.700 per kilogram, lalu turun lagi jadi Rp 5.600 per kilogram. Punya saya dihargai Rp 5.500 per kilogram. Sekarang banyak bakol (tengkulak) yang tutup, karena mau hari raya (Idul Fitri),” imbuhnya.
Karena itu, dia langsung menjual gabahnya ke tengkulak.
”Harga segitu itu sudah dari sawah atau sudah dari mesin perontok padi. Di sini jarang yang pakai mesin combine,’’ terangnya.
Sementara itu, Dwijan Santoso petani asal Desa/Kecamatan Plandaan mengungkapkan, di wilayahnya juga sudah mulai panen raya padi.
’’Kemungkinan puncaknya hari kelima setelah Idul Fitri, sekarang masih belum semua,’’ kata Dwi.
Baca Juga: Perum Bulog Mojokerto Bareng Kodim 0814 Jombang Pantau Serapan Gabah Petani
Petani disitu tak langsung menjual gabah dalam kondisi basah.
’’Biasanya di sini dibawa pulang dan dijual kering, ada yang siap giling (gabah kering giling), jarang yang dijual langsung dari sawah,’’ terangnya.
Hasil panen petani biasanya dijual ke tengkulak. ’’Tengkulak lokal, kalau yang tebasan sudah sangat jarang,’’ ucapnya.
Dia berharap harga gabah ketika panen raya tidak anjlok. Sebab, hal itu bisa membuat petani merugi.
’’Mudah-mudahan tidak turun, karena biasanya ketika sudah panen raya, harganya akan turun. Harusnya stabil, karena pemerintah sudah menetapkan HPP,’’ kata Dwijan.
Terpisah, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Kabuh, Fatkhur Rohman, mengakui, wilayah setempat saat ini sudah mulai panen padi.
”Sekarang sudah hampir 25 persen yang panen, sisanya atau puncaknya setelah Lebaran,’’ kata Fatkhur.
Mulai dari wilayah timur di Desa Kauman, Genenganjasem, Munungkerep, Sumbergondang, hingga Karangpakis, dan Desa Banjardowo.
’’Di Desa Sumberingin ini malah lebih dulu panennya, lalu di Pengampon sekarang hampir selesai,’’ jelasnya.
Disinggung soal harga, Fatkhur tetap berpedoman pada HPP yang sudah ditetapkan.
’’Yang kami kawal ini program serap gabah bersama Bulog. Harganya tetap, Rp 6.500 per kilogram gabah bersih kering sawah,” tuturnya.
Menurutnya, petani di Kecamatan Kabuh jarang menjual gabah kering panen (GKP). Biasanya dibawa pulang dan dikeringkan terlebih dahulu.
’’Karena dalam setahun sekali panen padi, sehingga gabahnya dibawa pulang dan disimpan,’’ ujarnya.
Idealnya saat ini, harga harus sesuai yang ditetapkan pemerintah. Meski tengkulak yang membeli gabah ke petani.
’’Idealnya harganya sesuai dengan yang diambil Bulog Rp 6.500 per kilogram. Keinginan pemerintah begitu, tetapi tengkulak ini kadang sudah orang ke berapa. Karena mereka ini akan disetor lagi, sehingga harganya di tingkatan petani beda,’’ bebernya.
Petani bisa melakukan koordinasi dengan masing-masing kelompok tani (poktan) atau gabungan poktan (gapoktan), agar gabah mereka diserap Bulog.
Tentunya dengan harga yang sudah sesuai HPP.
’’Misalnya ingin gabahnya terserap Bulog dengan harga sesuai pemerintah, caranya harus mendaftar program serap gabah. Petani bisa koordinasi ke masing-masing poktan biar nanti ditindaklanjuti,’’ kata Fatkhur. (fid/jif)
Editor : Ainul Hafidz