BAHWA benar, berpuasa bulan Ramadan itu membakar dosa. Bersihkah, hanguskah semua..?
Itulah persoalannya. Jika kerja pembakarannya sungguhan, maka bisa dipastikan bersih dan hangus. Dan setiap kita punya jawaban sendiri-sendiri.
Dalam Alquran, dosa berat dibahasakan dengan ’’dzanb, dzunub’’, sedangkan dosa kecil, ringan dengan ’’sayyi’ah, sayyi’at.’’
’’Rabbana fa-ighfir lana dzunubana wa kaffir ‘anna sayyi’atina” (QS Ali Imran 193). Kayaknya, ’’al-sayyi’at’’ yakin hangus, kayak membakar kertas kering.
Tapi ’’dzunub’’, dosa lengket dan berat..? Kita wajib berbaik sangka kepada-Nya, bahwa Dia Dzat yang maha mengampuni.
Apalagi Ramadan kini belum berakhir, kita masih punya kesempatan sujud berlama-lama.
Ingat, penyesalan hanya bagi orang yang abai dan malas. Buatlah sertifikat Ramadan anda tahun ini berpredikat: Summa Comlaude.
Ternyata masih ada kebajikan lain yang satu paket dengan Ramadan, yaitu ber ’’idul fitr’’.
Id, artinya pesta, makan bersama, (QS al-maidah 114), bukan ’’kembali’’. Kembali itu bahasa Arabnya ’aud.
Fithr, artinya sarapan pagi, makan pagi. Kalau, ’’fithrah’’ artinya jiwa, kesucian insting dan jiwa.
Jadi Idul Fithr, artinya pesta makan pagi, bareng-bareng, mengingat satu bulan penuh tidak boleh makan pagi karena puasa Ramadan.
Baca Juga: Kalam Jumat: Ramadan
Maka disebut ’’zakat al-fithr’’, subsidi makan pagi bagi fakir dan miskin agar bisa bergembira, pesta bersama.
Dan batas akhir zakat ini adalah sebelum salat Id dilaksanakan. Anda ngotot ’’Id’’ artinya ’’kembali’’..?, boleh, silakan. Show, ’’Idul Adha’’ dimaknai apa..?
Kembali sembelihan, gorok-gorokan..? Idul Fithr itu pesta makan pokok, sedangkan Idul Adha, untuk pesta besar dengan lauk pauk dan daging melimpah. Ada gizi dan protein lengkap.
Senada dengan pemahaman ini adalah zakat. Silakan berkata ’’Zakat al-Fithr’’, berarti subsidi sarapan pagi. Atau ’’zakat al-fithrah’’, berarti subsidi untuk pensucian jiwa.
Lha kok ada tesis ’’Min al-aidin, al-fa’izin al-maqbulin’’ dan seterusnya saat hari raya.
’’Min a’idin’’ itu doa agar setelah ibadah Ramadan ini, kita yang sebelumnya berlumuran dosa terampuni, menjadi bersih kembali, seperti dulu saat lahir.
Bukan dari makna Idul fithr. Al-Fa’izin, dengan bersihnya dosa, semoga kita menjadi orang yang beruntung.
Al-maqbulin, selanjutnya, baik amal maupun pribadi ini diterima di sisi-Nya nanti.
Dengan syari’ah ini, terpadulah komunikasi dua arah, ’’Habl min Allah’’, vertikal, dengan berpuasa siang hari dan bersimpuh malam hari.
Lalu direfleksikan dengan ’’Habl min al-Nas’’, horizontal, dengan amal sosaial dan saling memaafkan. Penulis mohon maaf. Taqbbal Allah minna wa minkum. (*)
Editor : Ainul Hafidz